MAHAKARTA

MAHAKARTA
Tampilkan postingan dengan label UMBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMBY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2015

Rakor Alumni Menwa Mahakarta


Alhamdulillah..., meskipun hujan lebat..dan lampu Kodim dan sekitarnya jg padam..., tp semangat Komando masih nampak.., sehingga Rakor berjalan dgn dihadiri sekitar 25 org..., hadir sesepuh kita...yth mas Janu Pardadi, mas Istomo Waluyo, mas Timbul....dan mas Bambang Kus..
Adapun hasil dr Rakor adalah sbb:

Susunan Kepanitiaan:
Steering Comitee,
- Djoko Prasetyo (Ketua)
- Timbul Krishartanto
- Budi Wahyuningsih
- Tri Wintolo
- Brotoseno
- Seti Widodo
- Morris TS

Organizing Comitee,
- Ketua : Heru Bj Mulyanto
- Wk, Ketua I : Sawaliman
- Wk, Ketua II : Gatot Mujiyono
- Sekretaris I : Ambar Nuradi
- Sekretaris II : Hermansyah
- Bendahara I : Purwanta
- Bendahara II : Nusan Putri
- Acara : Untung La Ode, Gamaliel, B.Tsani
- Transportasi & Akomodasi : Subur Mulyono, Rino Pattiasina, Edy. M
- Dokumentasi : Bandono, Kuncoro, Sentot
- Operasional : Herimawan Nerro, Samsudi
- Humas : Sunu Subagyo, Wedho, Zubaedi, Ery Dodi
- Usaha Dana : Sarwestu, Mawardi Asto, Kadir

Korwil Penggalangan Peserta & Dana:
Eks Yon 1 : Ketua Ka.Menwa Gama (Djoko Prasetyo)
Eks Yon 2 : Ketua Ka.Menwa PasoPati (Putut Hargianto)
Eks Yon 3 : Ketua Ka.Menwa Yon 3
Eks Yon 4 : Ketua Paguyuban Babarsari Satu (Junardi)
Eks Yon 5 : Ketua Ka.Menwa Yon 5 (Sujadi Jaman)
Eks Yon 6 : Ketua Ka.Menwa Yon 6
Eks Yon 7 : Ketua Ka.Menwa Yon 7
Eks Yon 8 : Ketua Ka.Menwa Yon 8
Eks Yon 9 : Ketua Ka.Menwa Yon 9
Eks Yon 10 : Ketua Ka.Menwa Yon 10
Eks Yon 11 : Ketua Ka.Menwa Yon 11
Eks Yon Gab 1 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 1
Eks Yon Gab 2 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 2
Eks Yon Gab 3 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 3
Eks Den A : Ketua Ka.Menwa Den A
Eks Den B : Ketua Ka.Menwa Den B

Reuni Menwa Mahakarta rencananya akan diselenggarakan Pada:
Hari : Sabtu - Minggu
Tanggal : 23-24 Juli 2011 (Tentatif)
TemPat : Yogyakarta
Acara : Lokakarya, Gathering (Demo Terjun Payung)

Demikian sementara yang dapat Laporkan di FKA Mahakarta...
Sumbang saran dari teman2 ditunggu...
Selesai....

SERTIJAB KOMANDAN SATUAN MANGGALA YUDHA PERIODE 2014/2015




Wakil rektor 1 universitas mercubuana yogyakarta Wisnu adi yulianto MP, memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Satuan Resimen Mahasiswa (Sat Menwa Umby), jumat 16 january 2015. Upacara yang berlangsung di ruang sidang gedung rektorat ini dihadiri pejabat dari muspika sedayu, antaralain danrami sedayu,basarnas, camat sedayu ,ukm, bemf hmps mercubuana dan seluruh komandan satuan se mahakarta,

Jabatan komandan Sat Menwa itu diserahkan oleh Dan Sat Menwa periode 2013/2014, Eko Riyanto mahasiswa Fakultas Psikologi, kepada penggantinya Dan Sat Menwa periode 2014/2015 Tri Darwaji mahasiswa Fakultas Psikologi juga. Bagi sebuah organisasi, serah terima jabatan adalah salah satu proses untuk mempertahankan eksistensi sebuah organisasi. serta memperbaiki program kerja agar lebih meningkat dan lebih dari yang terdahulu, 
Serah terima jabatan dan pengukuhan jabatan memiliki makna penting dan strategis, karena terkait dengan dinamika proses kesinambungan pembinaan secara utuh dan menyeluruh baik pembinaan organisasi, pembinaan personel, maupun regenerasi di lingkungan satuan manggala yudha khususnya dan Menwa indonesia pada umumnya. karena itu, mekanisme pergantian pejabat seperti ini, tidak hanya dimaknai sebagai pergantian personel semata, tetapi lebih dari itu merupakan proses kesinambungan pembinaan yang mendorong semangat pembaruan dan penyegaran bagi peningkatan peran organisasi.

Dalam sambutannya, wisnu adi yulianto MP mengharapkan seluruh jajaran Satuan Resimen Mahasiswa Universitas Mercubuana mencari terobosan guna menarik minat mahasiswa untuk bergabung dengan Resimen Mahasiswa yang dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang. Selain itu juga mengharapkan agar Sat Menwa manggala yudha membuat program-program inovatif dan kreatif, seperti misalnya kegiatan outbound khusus bagi mahasiswa, agar mereka menjadi manusia Indonesia yang pandai, terampil, cekatan, mampu bekerjasama, tegas dan disiplin. 
salam komando ,
Manggala yudha 2015







Senin, 12 Januari 2015

PRADIK YUDHA XXXVIII SATUAN MENWA MANGGALA YUDHA UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA

 Alhamdulillah akhirnya selesailah pendidikan pracandradimuka yudha XXXVIII..LANCAR DAN TERKENDALI..
Mahasiswa sebagai generasi muda penerus kepemimpinan bangsa Indonesia merupakan potensi yang sangat bagus. Dunia kampus yang penuh nuansa intelektual merupakan modal utama untuk pengembangan SDM Indonesia. Akan tetapi banyaknya perguruan tinggi di Indonesia yang telah meluluskan beribu-ribu alumninya belum mampu memperlihatkan kehandalanya dalam ikut membangun Negara ini. Hal ini dapat kita lihat keadaan bangsa ini yang masih labil dan mudah untuk terbawa arus dan intervensi dari luar serta berbagai masalah yang menumpuk baik itu masalah ekonomi, social, politik, pertahanan dan keamanan.
Berangkat dari pemikiran tersebut perlu kiranya adanya kegiatan tambahan bagi mahasiswa disamping belajar pada bidangnya masing-masing. Kegiatan tambahan (ekstrakulikuler) terbukti mampu melatih mahasiswa memimpin, melatih pola pikir yang sistematis, serta mampu menimbulkan motivasi berprestasi dikalangan mahasiswa.

Unit Kegiatan Mahasiswa Resimen Mahasiswa Satuan MANGGALA YUDHA merupakan unit penyalur minat dan bakat mahasiswa di bidang bela Negara yang bertujuan menghasilkan cadangan nasional yang tangguh, tanggap dan trengginas. berpikir bericara bertindak yang terbaik. Pembinaan yang dilakukan di Resimen Mahasiswa mengarah kepada pembentukan pribadi yang mempunyai pola pikir ilmiah serta mempunyai kemampuan awal bela Negara. Penggabungan dua kemampuan ini diharapkan mampu menciptakan Sumber Daya Manusia yang tangguh untuk mengisi pembangunan Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya pendidikan, pelatihan dan pembinaan di Resimen Mahasiswa Satuan manggala yudha harus terus berlangsung secara berkesinambungan. Salah satu upaya tersebut adalah Pra Pendidikan Dasar yang merupakan pendidikan awal bagi calon anggota baru sebelum mereka menjadi anggota resmi Resimen Mahasiswa Satuan manggala yudha universitas mercu buana yogyakarta.
Komando Resimen Mahasiswa Mahakarta satuan manggala yudha telah melaksanakan Pra Pendidikan Dasar (Pradiksar) Yudha 38 pada bulan desember 2014 yang diikuti 14 angggota baru, dimana Pradiksar tersebut merupakan salah satu Program kerja Resimen Mahasiswa Mahadipa Satuan manggala yudha. Jumlah camen 14 personil yang dilaksasnakan di sekitar gunung sedayu goa payaman. Selama 7 hari 7 malam, meraka ditempa agar mereka bisa belajar bertangungjawab dalam mengemban sebuah tangung jawab dan mempunyai jiwa korsa yang kuat antar anggota sehinga bisa menciptakan kader-kader bela negara yang mumpuni dalam bidang bela negara. Alhamdulillah kegiatan ini berlangsung aman. Kegiatan ini diadakan untuk mempersiapkan para calon anggota (Camen) untuk mengikuti PENDIDIKAN DASAR (DikSar) yang akan diadakan nanti. Banyak agenda yang dilakukan selama kegiatan TERMASUK YEL YEL LAGU KOMANDO DLL,

Hari pertama sampai ketiga, Materi ruangan. Antara lain; Kemenwaan, SAR, Manajemen Konflik, TUM, Kepemimpinan, CMI, PBB dan PPM, KESLAP, Fungsi Staf. Hari keempat sampai keenam, Upacara pembukaan dan dilanjutkan pergeseran pasukan menuju lokasi di dusun Sungapan sedayu bantul. Setelah sampai di lokasi, kemudian Orentasi medan (Ormet) disekitar lokasi dan dilanjutkan Materi di lapangan. Antara lain ; Bivak, PBB, PPM, IMPK, BDM, TUM, TKK, Survival, Nikpursar, Pionir, senam senjata, dan caraka. Hari ketuju, Pergeseran pasukan dari Sunngapan ke goa payaman. Dan hari terakhir, kita semua pulang dari lokasi kegiatan. Dari lokasi kegiatan ini seluruh camen longmarch dari Goa Payaman menuju Kampus. Akhirnya, pada keesokan harinya seluruh rangkaian acara ditutup dengan upacara kemudian camen dimandikan untuk menghilang bau badan (karena selama kegiatan, camen tidak ada yang mandi hanya mandi air hujan dan sungai). Alhamdulillah, Semua camen yang mengikuti kegiatan ini berjalan dengan baik.
Semoga seluruh anggota baru ini kelak akan menjadi orang-orang terbaik yang kelak bisa memajukan

Resimen Mahasiswa Mahakarta dan satuan MANGGALA YUDHA UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA.




 umby
 MERCUBUANA YOGYA
 UMBY
 MERCUBUANA
 UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYA
 UMBY

MUKER XXVII SATUAN MANGGALA YUDHA

Musyawarah kerja (Muker) XXVII Satuan Menwa Manggala Yudha UMBY dilaksanakan pada tanggal haru jumat 9-10 january 2014 dengan Dansatgas Suryadi. Muker diawali dengan membuat tata tertib sidang   agar kedepan bisa lebih teratur dan berjalan dengan tertib danlancar.
Jumat 9 january merupakan hari pertama pelaksanaan Musyawarah Kerja XXVII. Muker XXVII diawali dengan upacara pembukaan yang langsung di inspekturi oleh Komandan Satmenwa manggala yudha umby Eko Riyanto. Setelah itu, dilanjutkan sarasehan (prasaran) oleh Alumni. Acara ini, dihadiri oleh bapak agus dan bapak jepri sebagai alumni sekaligus Peninjau sidang muker XXVII  . Dalam sarasehan tersebut, alumni berpesan kepada seluruh anggota manggala yudha untuk menjaga komunikasi. Jangan sampai, kita hanya mengenal orang-orang yang berada disamping kita saja dikarenakan, lebih banyak alumni dan senior jauh maka teteplah jaga komunikasi silaturahmi secara berkesinambungan guna memupuk persudaraan antar yudha baru dan yudha lama
Setelah berjam-jam sharing mengenai keadaan internal di Menwa umby tibalah saatnya untuk melanjutkan, mulailah sidang Komisi yang dipimpin oleh  ketua sidang terpilih ajat sudrajat , apriliani sebagai wakil sidang dan aditya yuli prasetya sebagai sekretaris sidang
sidang komisi dimulai Pada sidang komisi ini, anggota sidang dibagi menjadi komisi A, B, dan C. Masing-masing komisi membahas kegiatan selama satu tahun (komisi A) BIDANG ORGANISASI, (komisi B) ADMINISTRASI UMUM dan (komisi C) PROGRAM KERJA. Setelah berjam-jam mematangkan masing-masing bahasan, tepat pukul 12.00 WIB Dinyatakan istirahat dan dilanjud esok hari , sabtu pagi 10 januari pukul 08.00 mulai membahas komisi dan anggota sidang menyepakati seluruh isi komisi, baik komisi A, B, dan C selesai pukul 16;00.
Sidang pleno, dilanjutkan  pemaparan LPJ oleh Komandan dan Wakil Komandan 2014. Pukul 20.00 WIB  pemaparan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari masing-masing kepala urusan pada hari pertama. LPJ merupakan wujud dari tanggung jawab terlaksananya program kerja selama kepengurusan
Sidang komisi dilanjutkan dengan musyawarah penentuan komandan dan wakil komandan. Setelah melalui pemilihan voting, musyawarah anggota sidang, dan lobbying, akhirnya terpilih Tri Darwaji (yudha XXXV psikologi ) sebagai komandan dan Kasno syarief (yudha XXXVII) sebagai wakil komandan.
Tepat pukul 22.00 WIB (10 january), telah disepakati komandan, wakil komandan, dan kaur-staf. Upacara penutupan Musyawarah Kerja XXVII,
Dan sertijab akan dilaksanakan pada seminggu kedepan atau hari yang sama jumat pada pukul 08;00 WIB sekaligus penandatanganan berita acara di ruang sidang rektorat UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA.

DANSAT Red..


Jumat, 21 November 2014

FOKUS GROUP DISCUSSION(FGD)



FOKUS GROUP DISCUSSION(FGD)
UMB-YOGYAKARTA



  


Disusun oleh :
SATUAN MANGGALA YUDHA
UMBY
Focus Group Discussion (FGD)
Istilah kelompok diskusi terarah atau dikenal sebagai Focus Group Discussion (FGD) saat ini sangat populer dan banyak digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian sosial. Pengambilan data kualitatif melalui FGD dikenal luas karena kelebihannya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki informan. FGD memungkinkan peneliti dan informan berdiskusi intensif dan tidak kaku dalam membahas isu-isu yang sangat spesifik. FGD juga memungkinkan  peneliti mengumpulkan informasi secara cepat dan konstruktif dari peserta yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Di samping itu, dinamika kelompok yang terjadi selama berlangsungnya proses diskusi seringkali memberikan informasi yang penting, menarik, bahkan kadang tidak terduga.
Hasil FGD tidak bisa dipakai untuk melakukan generalisasi karena FGD memang tidak bertujuan menggambarkan (representasi) suara masyarakat. Meski demikian, arti penting FGD bukan terletak pada hasil representasi populasi, tetapi pada kedalaman informasinya. Lewat FGD, peneliti bisa mengetahui alasan, motivasi, argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang atau kelompok. FGD merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang secara teori mudah dijalankan, tetapi praktiknya membutuhkan ketrampilan teknis yang tinggi.
Tulisan ini merupakan panduan sederhana dalam menyelenggarakan FGD dengan menggabungkan pendekatan teoritis dan praktis. Pertama-tama akan diuraikan basis teoritis FGD, mulai dari penjelasan soal konsep FGD, teknik penentuan jumlah kelompok, tata ruang, membuat panduan diskusi, pelaksanaan, hingga analisis data dan penulisan laporan.
Pengertian FGD
FGD secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto (2006: 1-2) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.
Sesuai namanya, pengertian Focus Group Discussion mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi (bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah (bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, FGD tidak sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. FGD bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Banyak orang berpendapat bahwa FGD dilakukan untuk mencari solusi atau menyelesaikan masalah. Artinya, diskusi yang dilakukan ditujukan untuk mencapai kesepakatan tertentu mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh para peserta, padahal aktivitas tersebut bukanlah FGD, melainkan rapat biasa. FGD berbeda dengan arena yang semata-mata digelar untuk mencari konsensus.
Sebagai alat penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif.
Di luar fungsinya sebagai metode penelitian ilmiah, Krueger & Casey (2000: 12-18) menyebutkan, FGD pada dasarnya juga dapat digunakan dalam berbagai ranah dan tujuan, misalnya (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3) pengembangan produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan sebagainya.
Kapan FGD Harus Digunakan?
FGD harus dipertimbangkan untuk digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
  1. Peneliti ingin memperoleh informasi mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki informan.
  2. Peneliti ingin memahami lebih lanjut keragaman perspektif  di antara kelompok atau kategori masyarakat.
  3. Peneliti membutuhkan informasi tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas.
  4. Peneliti ingin memperoleh kepuasan dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek risetnya.
Kapan FGD Tidak Diperlukan?
FGD harus dipertimbangkan untuk tidak digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
  1. Peneliti ingin memperoleh konsensus dari masyarakat/peserta
  2. Peneliti ingin mengajarkan sesuatu kepada peserta
  3. Peneliti akan mengajukan pertanyaan “sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan informan.
  4. Peneliti tidak dapat meyakinkan atau menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori “sensitif”.
  5. Metode lain dapat menghasilkan kualitas informasi yang lebih baik
  6. Metode lain yang lebih ekonomis dapat menghasilkan informasi yang sama.
Meskipun terlihat sederhana, menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam, memerlukan persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Mengapa FGD?
Irwanto (2006: 3- 6) mengemukakan tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan praktis.
  1. Alasan Filosofis
·         Pengetahuan yang diperoleh dalam menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan responden.
·         Penelitian tidak selalu terpisah dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan bentuk aksi .

  1. Alasan Metodologis
·         Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
·         Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
·         FGD dinilai paling tepat dalam menggali permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.
  1. Alasan Praktis
Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.
Menurut Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.
Dari berbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk:
a)      Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;
b)      Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai kepercayaan, sikap dan perilaku  kelompok tertentu;
c)      Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam; dan
d)     Cross-check data dari sumber lain atau dengan metode lain.

Persiapan dan Desain Rancangan FGD
Sebagai sebuah metode penelitian, pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan tidak asal-asalan. Untuk diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1) Membentuk Tim; 2) Memilih Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4 Menentukan Jumlah Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.

1) Membentuk Tim
Tim FGD umumnya mencakup:
  1. Moderator, yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses).
  2. Asisten Moderator/co-fasilitator, yaitu orang yang intensif mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator mengenai: waktu, fokus diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah masih ada pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD yang terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
  3. Pencatat Proses/Notulen, yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu unit komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
  4. Penghubung Peserta, yaitu orang yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan partisipasi peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
  5. Penyedia Logistik, yaitu orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan), insentif (bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
  6. Dokumentasi, yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam (audio/video), dan menjamin berjalannya alat-alat dokumentasi, terutama  perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
  7. Lain-lain jika diperlukan (tentatif), misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker (penjaga “keamanan” FGD, dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon yang selalu berdering, teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi, dsb)
2) Memilih dan Mengatur Tempat
Pada prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising, berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul (preman, pengamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator sebagai fokusnya. Jika FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk yang depannya ramai dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap pintu tersebut, sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai “pemandangan” yang dapat dilihat diluar rumah.
Jika digambarkan, layout ruang diskusi dapat dilihat sebagai berikut:
http://bincangmedia.files.wordpress.com/2011/03/fgd.jpg?w=300&h=219
(Irwanto, 2006: 68)
3) Menyiapkan Logistik
Logistik adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi (audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi; properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama); insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.
Insentif dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal yang wajar diberikan. Selain sebagai strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluangkan waktu dan pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal, dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).
4). Jumlah Peserta
Dalam FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo, 1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11 orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil, yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger & Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik, dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.
5). Rekruitmen Peserta: Homogen atau Heterogen?
Tekait dengan homogenitas atau heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76) mengemukakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Pemilihan derajat homogenitas atau heterogenitas peserta harus sesuai dengan  tujuan awal diadakannya FGD.
  2. Pertimbangan persoalan homogenitas atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen, tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan. Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisis ekonomi atau bencana alam besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen.
  3. Secara mendasar harus disadari bahwa semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif sama.
  4. Semakin heterogen semakin sulit untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar.
  5. Homogenitas-heterogenitas tergantung dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu.
  6. Pertimbangan utama dalam menentukan homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen.
Menyusun Pertanyaan  FGD
Kunci dalam membuat panduan diskusi yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai panduan diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan hal-hal berikut:
-          Baca lagi tujuan penelitian
-          Baca lagi tujuan FGD
-          Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin Anda dapatkan dari FGD
-          Bagaimana Anda akan menggunakan informasi tersebut
-          Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya jangan lebih dari 5 (lima) pertanyaan inti.
-          Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana dan jelas. Hindari konsep besar yang kabur maknanya.
-          Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada teman-teman dalam tim Anda.
Berbeda dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam prosesnya memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai ketrampilan mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau agar diskusi tidak macet (Irwanto, 2006: 2)
Pelaksanaan FGD
Keberhasilan pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya, baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian). Peran-peran  tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c) melakukan refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f) melakukan blocking dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan memberi kesempatan yang lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i) melerai perdebatan, (j) memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan (l) menutup FGD.
Dalam pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3) membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi efisisensi proses diskusi tersebut.

Analisis Data dan Penyusunan Laporan FGD
Analisis data dan Penulisan Laporan FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti. Langkah-langkahnya dapat ditempuh sebagai berikut:
1.  Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD
2.  Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat transkrip/verbatim)
3.  Baca kembali hasil transkrip
4.  Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol dan berulang-ulang muncul dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau topik. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk mengurangi “bias” dan “subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan dengan mengikuti Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD berlangsung.
5.  Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang muncul dalam FGD biasanya mencakup:
a. Konsensus
b. Perbedaan Pendapat
c. Pengalaman yang Berbeda
d. Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.
6. Buat koding dari hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik, misalnya  tentang Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:
Kode 1 untuk perilaku seks remaja
Bisa dipecah lagi menjadi:
Kode 1a : aturan/nilai-nilai menyangkut perilaku seks remaja
Kode 1b : pengalaman seksual

Kode 2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,
Bisa dipecah lagi:
Kode 2a : masalah tiadanya informasi kesehatan reproduksi
Kode 2b : masalah tidak adanya pelayanan untuk remaja, dst
Kode 3 untuk kebutuhan remaja
Menurut Irwanto (2006: 82-86), dalam melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
  1. Periksa dahulu, apakah tujuan FGD tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan yang ditanyakan (dieksekusi) apakah sesuai dengan rencana awal?
  2. Adakah perubahan dalam tujuan FGD yang terjadi karena input dari peserta?
  3. Identifikasi masalah utama yang dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema sentral dalam TOR FGD.
  4. Adakah variasi peserta dalam persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa? (Perbedaan-perbedaan yang muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai yang hanya berbeda sedikit saja. Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus disajikan dalam laporan.
  5. Selain persoalan utama itu, adakah persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam diskusi? Apa saja? Mana yang relevan dengan tujuan FGD?
  6. Buatlah suatu kerangka prioritas dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat sumber daya peneliti dan stakeholders, pilihlah masalah-masalah apakah dapat diselesaikan dapat diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Selain itu coba dipilih persoalan yang tidak kunung selesai, misalnya yang menyangkut perubahan apda tingkat makro (terutama struktur ekonomi dan politik).
  7. Lakukan koding sesuai dengan faktor-faktor yang dikehendaki.
Setelah pekerjaan di atas selesai, baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara berikut:
  1. Tuliskan topik-topik/masalah-masalah yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu tuliskan juga “kutipan-kutipan langsung” (apa kata orang yang berdiskusi) mengenai masalah tersebut
  2. Bahas topik-topik atau masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti. Lakukan topik demi topik, sampai semua topik/masalah penting selesai dilaporkan dan dibahas.
Tidak boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini: (a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e) tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.


Catatan Penting:
  1. Perlu diingat bahwa jika dalam sebuah wawancara pribadi, peneliti dihadapkan pada data individual—bukan sebuah proses kelompok—maka dalam FGD peneliti akan memperoleh data individu sekaligus kelompok.
  2. Semua pekerjaan, mulai dari mengumpulkan data, membahas hasil, mencari topik yang penting dalam transkrip, membahas kembali topik-topik itu, sampai menuliskan laporan harus dilakukan dengan tim atau paling tidak berpasangan untuk menghindari pendapat subjektif pribadi. Bila dilakukan dalam tim maka laporan bisa mendekati keutuhan karena berbagai pandangan saling melengkapi.

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.