Alhamdulillah..., meskipun hujan lebat..dan lampu Kodim dan sekitarnya jg padam..., tp semangat Komando masih nampak.., sehingga Rakor berjalan dgn dihadiri sekitar 25 org..., hadir sesepuh kita...yth mas Janu Pardadi, mas Istomo Waluyo, mas Timbul....dan mas Bambang Kus.. Adapun hasil dr Rakor adalah sbb:
Organizing Comitee, - Ketua : Heru Bj Mulyanto - Wk, Ketua I : Sawaliman - Wk, Ketua II : Gatot Mujiyono - Sekretaris I : Ambar Nuradi - Sekretaris II : Hermansyah - Bendahara I : Purwanta - Bendahara II : Nusan Putri - Acara : Untung La Ode, Gamaliel, B.Tsani - Transportasi & Akomodasi : Subur Mulyono, Rino Pattiasina, Edy. M - Dokumentasi : Bandono, Kuncoro, Sentot - Operasional : Herimawan Nerro, Samsudi - Humas : Sunu Subagyo, Wedho, Zubaedi, Ery Dodi - Usaha Dana : Sarwestu, Mawardi Asto, Kadir
Korwil Penggalangan Peserta & Dana: Eks Yon 1 : Ketua Ka.Menwa Gama (Djoko Prasetyo) Eks Yon 2 : Ketua Ka.Menwa PasoPati (Putut Hargianto) Eks Yon 3 : Ketua Ka.Menwa Yon 3 Eks Yon 4 : Ketua Paguyuban Babarsari Satu (Junardi) Eks Yon 5 : Ketua Ka.Menwa Yon 5 (Sujadi Jaman) Eks Yon 6 : Ketua Ka.Menwa Yon 6 Eks Yon 7 : Ketua Ka.Menwa Yon 7 Eks Yon 8 : Ketua Ka.Menwa Yon 8 Eks Yon 9 : Ketua Ka.Menwa Yon 9 Eks Yon 10 : Ketua Ka.Menwa Yon 10 Eks Yon 11 : Ketua Ka.Menwa Yon 11 Eks Yon Gab 1 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 1 Eks Yon Gab 2 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 2 Eks Yon Gab 3 : Ketua Ka.Menwa Yon Gab 3 Eks Den A : Ketua Ka.Menwa Den A Eks Den B : Ketua Ka.Menwa Den B
Reuni Menwa Mahakarta rencananya akan diselenggarakan Pada: Hari : Sabtu - Minggu Tanggal : 23-24 Juli 2011 (Tentatif) TemPat : Yogyakarta Acara : Lokakarya, Gathering (Demo Terjun Payung)
Demikian sementara yang dapat Laporkan di FKA Mahakarta... Sumbang saran dari teman2 ditunggu... Selesai....
Wakil rektor 1 universitas mercubuana yogyakarta Wisnu adi yulianto MP, memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Satuan Resimen Mahasiswa (Sat Menwa Umby), jumat 16 january 2015. Upacara yang berlangsung di ruang sidang gedung rektorat ini dihadiri pejabat dari muspika sedayu, antaralain danrami sedayu,basarnas, camat sedayu ,ukm, bemf hmps mercubuana dan seluruh komandan satuan se mahakarta, Jabatan komandan Sat Menwa itu diserahkan oleh Dan Sat Menwa periode 2013/2014, Eko Riyanto mahasiswa Fakultas Psikologi, kepada penggantinya Dan Sat Menwa periode 2014/2015 Tri Darwaji mahasiswa Fakultas Psikologi juga. Bagi sebuah organisasi, serah terima jabatan adalah salah satu proses untuk mempertahankan eksistensi sebuah organisasi. serta memperbaiki program kerja agar lebih meningkat dan lebih dari yang terdahulu, Serah terima jabatan dan pengukuhan jabatan memiliki makna penting dan strategis, karena terkait dengan dinamika proses kesinambungan pembinaan secara utuh dan menyeluruh baik pembinaan organisasi, pembinaan personel, maupun regenerasi di lingkungan satuan manggala yudha khususnya dan Menwa indonesia pada umumnya. karena itu, mekanisme pergantian pejabat seperti ini, tidak hanya dimaknai sebagai pergantian personel semata, tetapi lebih dari itu merupakan proses kesinambungan pembinaan yang mendorong semangat pembaruan dan penyegaran bagi peningkatan peran organisasi. Dalam sambutannya, wisnu adi yulianto MP mengharapkan seluruh jajaran Satuan Resimen Mahasiswa Universitas Mercubuana mencari terobosan guna menarik minat mahasiswa untuk bergabung dengan Resimen Mahasiswa yang dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang. Selain itu juga mengharapkan agar Sat Menwa manggala yudha membuat program-program inovatif dan kreatif, seperti misalnya kegiatan outbound khusus bagi mahasiswa, agar mereka menjadi manusia Indonesia yang pandai, terampil, cekatan, mampu bekerjasama, tegas dan disiplin. salam komando , Manggala yudha 2015
Alhamdulillah akhirnya selesailah pendidikan pracandradimuka yudha XXXVIII..LANCAR DAN TERKENDALI..
Mahasiswa sebagai generasi muda penerus kepemimpinan bangsa Indonesia merupakan potensi yang sangat bagus. Dunia kampus yang penuh nuansa intelektual merupakan modal utama untuk pengembangan SDM Indonesia. Akan tetapi banyaknya perguruan tinggi di Indonesia yang telah meluluskan beribu-ribu alumninya belum mampu memperlihatkan kehandalanya dalam ikut membangun Negara ini. Hal ini dapat kita lihat keadaan bangsa ini yang masih labil dan mudah untuk terbawa arus dan intervensi dari luar serta berbagai masalah yang menumpuk baik itu masalah ekonomi, social, politik, pertahanan dan keamanan.
Berangkat dari pemikiran tersebut perlu kiranya adanya kegiatan tambahan bagi mahasiswa disamping belajar pada bidangnya masing-masing. Kegiatan tambahan (ekstrakulikuler) terbukti mampu melatih mahasiswa memimpin, melatih pola pikir yang sistematis, serta mampu menimbulkan motivasi berprestasi dikalangan mahasiswa.
Unit Kegiatan Mahasiswa Resimen Mahasiswa Satuan MANGGALA YUDHA merupakan unit penyalur minat dan bakat mahasiswa di bidang bela Negara yang bertujuan menghasilkan cadangan nasional yang tangguh, tanggap dan trengginas. berpikir bericara bertindak yang terbaik. Pembinaan yang dilakukan di Resimen Mahasiswa mengarah kepada pembentukan pribadi yang mempunyai pola pikir ilmiah serta mempunyai kemampuan awal bela Negara. Penggabungan dua kemampuan ini diharapkan mampu menciptakan Sumber Daya Manusia yang tangguh untuk mengisi pembangunan Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya pendidikan, pelatihan dan pembinaan di Resimen Mahasiswa Satuan manggala yudha harus terus berlangsung secara berkesinambungan. Salah satu upaya tersebut adalah Pra Pendidikan Dasar yang merupakan pendidikan awal bagi calon anggota baru sebelum mereka menjadi anggota resmi Resimen Mahasiswa Satuan manggala yudha universitas mercu buana yogyakarta.
Komando Resimen Mahasiswa Mahakarta satuan manggala yudha telah melaksanakan Pra Pendidikan Dasar (Pradiksar) Yudha 38 pada bulan desember 2014 yang diikuti 14 angggota baru, dimana Pradiksar tersebut merupakan salah satu Program kerja Resimen Mahasiswa Mahadipa Satuan manggala yudha. Jumlah camen 14 personil yang dilaksasnakan di sekitar gunung sedayu goa payaman. Selama 7 hari 7 malam, meraka ditempa agar mereka bisa belajar bertangungjawab dalam mengemban sebuah tangung jawab dan mempunyai jiwa korsa yang kuat antar anggota sehinga bisa menciptakan kader-kader bela negara yang mumpuni dalam bidang bela negara. Alhamdulillah kegiatan ini berlangsung aman. Kegiatan ini diadakan untuk mempersiapkan para calon anggota (Camen) untuk mengikuti PENDIDIKAN DASAR (DikSar) yang akan diadakan nanti. Banyak agenda yang dilakukan selama kegiatan TERMASUK YEL YEL LAGU KOMANDO DLL,
Hari pertama sampai ketiga, Materi ruangan. Antara lain; Kemenwaan, SAR, Manajemen Konflik, TUM, Kepemimpinan, CMI, PBB dan PPM, KESLAP, Fungsi Staf. Hari keempat sampai keenam, Upacara pembukaan dan dilanjutkan pergeseran pasukan menuju lokasi di dusun Sungapan sedayu bantul. Setelah sampai di lokasi, kemudian Orentasi medan (Ormet) disekitar lokasi dan dilanjutkan Materi di lapangan. Antara lain ; Bivak, PBB, PPM, IMPK, BDM, TUM, TKK, Survival, Nikpursar, Pionir, senam senjata, dan caraka. Hari ketuju, Pergeseran pasukan dari Sunngapan ke goa payaman. Dan hari terakhir, kita semua pulang dari lokasi kegiatan. Dari lokasi kegiatan ini seluruh camen longmarch dari Goa Payaman menuju Kampus. Akhirnya, pada keesokan harinya seluruh rangkaian acara ditutup dengan upacara kemudian camen dimandikan untuk menghilang bau badan (karena selama kegiatan, camen tidak ada yang mandi hanya mandi air hujan dan sungai). Alhamdulillah, Semua camen yang mengikuti kegiatan ini berjalan dengan baik.
Semoga seluruh anggota baru ini kelak akan menjadi orang-orang terbaik yang kelak bisa memajukan
Resimen Mahasiswa Mahakarta dan satuan MANGGALA YUDHA UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA.
Musyawarah kerja (Muker) XXVII Satuan Menwa Manggala Yudha UMBY dilaksanakan pada tanggal haru jumat 9-10 january 2014
dengan Dansatgas Suryadi. Muker
diawali dengan membuat tata tertib sidang agar kedepan bisa lebih
teratur dan berjalan dengan tertib danlancar.
Jumat 9 january merupakan hari pertama pelaksanaan
Musyawarah Kerja XXVII. Muker XXVII diawali dengan upacara pembukaan yang
langsung di inspekturi oleh Komandan Satmenwa manggala yudha umby Eko Riyanto. Setelah itu, dilanjutkan sarasehan (prasaran) oleh
Alumni. Acara ini, dihadiri oleh bapak agus dan bapak jepri sebagai alumni
sekaligus Peninjau sidang muker XXVII .
Dalam sarasehan tersebut, alumni berpesan kepada seluruh anggota manggala yudha
untuk menjaga komunikasi. Jangan sampai, kita hanya mengenal orang-orang yang
berada disamping kita saja dikarenakan, lebih banyak alumni dan senior jauh
maka teteplah jaga komunikasi silaturahmi secara berkesinambungan guna memupuk
persudaraan antar yudha baru dan yudha lama
Setelah berjam-jam sharing mengenai keadaan internal di
Menwa umby tibalah saatnya untuk melanjutkan, mulailah sidang Komisi yang
dipimpin oleh ketua sidang terpilih ajat
sudrajat , apriliani sebagai wakil sidang dan aditya yuli prasetya sebagai
sekretaris sidang
sidang komisi dimulai Pada sidang komisi ini, anggota sidang dibagi menjadi
komisi A, B, dan C. Masing-masing komisi membahas kegiatan selama satu tahun
(komisi A) BIDANG ORGANISASI, (komisi B) ADMINISTRASI UMUM dan (komisi C)
PROGRAM KERJA. Setelah berjam-jam mematangkan masing-masing bahasan, tepat
pukul 12.00 WIB Dinyatakan istirahat dan dilanjud esok hari , sabtu pagi 10
januari pukul 08.00 mulai membahas komisi dan anggota sidang menyepakati
seluruh isi komisi, baik komisi A, B, dan C selesai pukul 16;00.
Sidang pleno, dilanjutkan pemaparan
LPJ oleh Komandan dan Wakil Komandan 2014. Pukul 20.00 WIB pemaparan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)
dari masing-masing kepala urusan pada hari pertama. LPJ merupakan wujud dari
tanggung jawab terlaksananya program kerja selama kepengurusan
Sidang komisi dilanjutkan dengan musyawarah penentuan komandan dan wakil
komandan. Setelah melalui pemilihan voting, musyawarah anggota
sidang, dan lobbying, akhirnya terpilih Tri Darwaji (yudha XXXV psikologi
) sebagai komandan dan Kasno syarief (yudha XXXVII) sebagai wakil komandan.
Tepat pukul 22.00 WIB (10 january), telah disepakati komandan, wakil
komandan, dan kaur-staf. Upacara penutupan Musyawarah Kerja XXVII,
Dan sertijab akan dilaksanakan pada seminggu kedepan atau hari yang sama jumat pada pukul 08;00 WIB sekaligus penandatanganan berita
acara di ruang sidang rektorat UNIVERSITAS MERCUBUANA
YOGYAKARTA.
Istilah
kelompok diskusi terarah atau dikenal sebagai Focus Group Discussion (FGD)
saat ini sangat populer dan banyak digunakan sebagai metode pengumpulan data
dalam penelitian sosial. Pengambilan data kualitatif melalui FGD dikenal luas
karena kelebihannya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk
menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta
pengalaman yang dimiliki informan. FGD memungkinkan peneliti dan informan
berdiskusi intensif dan tidak kaku dalam membahas isu-isu yang sangat spesifik.
FGD juga memungkinkan peneliti mengumpulkan informasi secara cepat dan
konstruktif dari peserta yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Di samping
itu, dinamika kelompok yang terjadi selama berlangsungnya proses diskusi
seringkali memberikan informasi yang penting, menarik, bahkan kadang tidak
terduga.
Hasil
FGD tidak bisa dipakai untuk melakukan generalisasi karena FGD memang tidak
bertujuan menggambarkan (representasi) suara masyarakat. Meski demikian, arti
penting FGD bukan terletak pada hasil representasi populasi, tetapi pada
kedalaman informasinya. Lewat FGD, peneliti bisa mengetahui alasan, motivasi,
argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang atau kelompok. FGD merupakan
salah satu metode penelitian kualitatif yang secara teori mudah dijalankan,
tetapi praktiknya membutuhkan ketrampilan teknis yang tinggi.
Tulisan
ini merupakan panduan sederhana dalam menyelenggarakan FGD dengan menggabungkan
pendekatan teoritis dan praktis. Pertama-tama akan diuraikan basis teoritis
FGD, mulai dari penjelasan soal konsep FGD, teknik penentuan jumlah kelompok,
tata ruang, membuat panduan diskusi, pelaksanaan, hingga analisis data dan
penulisan laporan.
Pengertian
FGD
FGD
secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan
secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto
(2006: 1-2) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan
informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat
spesifik melalui diskusi kelompok.
Sesuai
namanya, pengertian Focus Group Discussion mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi
(bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah
(bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, FGD tidak
sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. FGD
bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal.
Banyak orang berpendapat bahwa FGD dilakukan untuk mencari solusi atau
menyelesaikan masalah. Artinya, diskusi yang dilakukan ditujukan untuk mencapai
kesepakatan tertentu mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh para
peserta, padahal aktivitas tersebut bukanlah FGD, melainkan rapat biasa. FGD
berbeda dengan arena yang semata-mata digelar untuk mencari konsensus.
Sebagai
alat penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD
berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode
penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam
suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan
untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu
teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer
atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif.
Di
luar fungsinya sebagai metode penelitian ilmiah, Krueger & Casey (2000:
12-18) menyebutkan, FGD pada dasarnya juga dapat digunakan dalam berbagai ranah
dan tujuan, misalnya (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3)
pengembangan produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan
sebagainya.
Kapan
FGD Harus Digunakan?
FGD
harus dipertimbangkan untuk digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
Peneliti ingin
memperoleh informasi mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan
pengalaman yang dimiliki informan.
Peneliti ingin
memahami lebih lanjut keragaman perspektif di antara kelompok atau
kategori masyarakat.
Peneliti
membutuhkan informasi tambahan berupa data kualitatif dari riset
kuantitatif yang melibatkan persoalan masyarakat yang kompleks dan
berimplikasi luas.
Peneliti ingin
memperoleh kepuasan dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar
pendapat langsung dari subjek risetnya.
Kapan
FGD Tidak Diperlukan?
FGD
harus dipertimbangkan untuk tidak digunakan sebagai metode
penelitian sosial jika:
Peneliti ingin
memperoleh konsensus dari masyarakat/peserta
Peneliti ingin
mengajarkan sesuatu kepada peserta
Peneliti akan
mengajukan pertanyaan “sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam
sebuah forum bersama kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara
personal antara peneliti dan informan.
Peneliti tidak
dapat meyakinkan atau menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori
“sensitif”.
Metode lain
dapat menghasilkan kualitas informasi yang lebih baik
Metode lain yang
lebih ekonomis dapat menghasilkan informasi yang sama.
Meskipun
terlihat sederhana, menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam,
memerlukan persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar
tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai.
Mengapa
FGD?
Irwanto
(2006: 3- 6) mengemukakan tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan
filosofis, metodologis, dan praktis.
Alasan Filosofis
·Pengetahuan
yang diperoleh dalam menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang
pengalaman tertentu dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang
berbeda dibanding pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara
peneliti dengan responden.
·Penelitian
tidak selalu terpisah dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan
antarpribadi sudah merupakan bentuk aksi .
Alasan
Metodologis
·Adanya
keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei
atau wawancara individu karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
·Untuk
memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
·FGD
dinilai paling tepat dalam menggali permasalahan yang bersifat spesifik, khas,
dan lokal. FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan
yang paling sesuai.
Alasan Praktis
Penelitian
yang bersifat aksi membutuhkan perasaan memiliki dari objek yang diteliti-
sehingga pada saat peneliti memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek
penelitian bersedia menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD
memberikan kesempatan bagi tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.
Menurut
Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah
sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check
terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode
penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik
keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.
Dari
berbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan
penelitian, FGD berguna untuk:
a)
Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;
b)
Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai kepercayaan, sikap dan
perilaku kelompok tertentu;
c)
Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam; dan
d)
Cross-check data dari sumber lain atau dengan metode lain.
Persiapan
dan Desain Rancangan FGD
Sebagai
sebuah metode penelitian, pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan
tidak asal-asalan. Untuk diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1)
Membentuk Tim; 2) Memilih Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4
Menentukan Jumlah Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.
1)
Membentuk Tim
Tim
FGD umumnya mencakup:
Moderator, yaitu fasilitator diskusi yang
terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian yang
hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta terampil mengelola
diskusi (ketrampilan proses).
Asisten Moderator/co-fasilitator, yaitu orang yang intensif
mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator mengenai: waktu, fokus
diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah masih ada
pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD yang
terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
Pencatat
Proses/Notulen,
yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta
dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu
unit komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
Penghubung
Peserta, yaitu orang
yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan partisipasi
peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
Penyedia
Logistik, yaitu
orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan
transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan),
insentif (bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
Dokumentasi, yaitu orang yang
mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam
(audio/video), dan menjamin berjalannya alat-alat dokumentasi, terutama
perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
Lain-lain jika diperlukan (tentatif),
misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker (penjaga “keamanan” FGD,
dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon yang selalu berdering,
teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi, dsb)
2)
Memilih dan Mengatur Tempat
Pada
prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang
dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising,
berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul
(preman, pengamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki
ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk
peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator
sebagai fokusnya. Jika FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk
yang depannya ramai dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap
pintu tersebut, sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai
“pemandangan” yang dapat dilihat diluar rumah.
Jika
digambarkan, layout ruang diskusi dapat dilihat sebagai berikut:
(Irwanto,
2006: 68)
3)
Menyiapkan Logistik
Logistik
adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah
FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi
(audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi;
properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama);
insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.
Insentif
dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal yang wajar diberikan. Selain sebagai
strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk
ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluangkan waktu dan
pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal,
dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika
datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan
dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa
sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).
4).
Jumlah Peserta
Dalam
FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut
beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo,
1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11
orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil,
yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger
& Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik,
dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk
memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau
ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.
5).
Rekruitmen Peserta: Homogen atau Heterogen?
Tekait
dengan homogenitas atau heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76)
mengemukakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Pemilihan
derajat homogenitas atau heterogenitas peserta harus sesuai dengan
tujuan awal diadakannya FGD.
Pertimbangan
persoalan homogenitas atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu
yang diupayakan untuk heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau
gender boleh heterogen, tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami
masalah yang didiskusikan. Dalam mempelajari persoalan makro seperti
krisis ekonomi atau bencana alam besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta
yang bervariasi latar belakang sosial ekonominya, tetapi dalam persoalan
spesifik, seperti perkosaan atau diskriminasi, sebaiknya peserta lebih
homogen.
Secara mendasar
harus disadari bahwa semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu
diadakan FGD karena dengan mewawancarai satu orang saja juga akan
diperoleh hasil yang sama atau relatif sama.
Semakin
heterogen semakin sulit untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya
terlalu besar.
Homogenitas-heterogenitas
tergantung dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi,
latar belakang agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil
heterogen, maka kelompok tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD
masih dianggap perlu.
Pertimbangan
utama dalam menentukan homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang
harus/boleh/tidak boleh heterogen dan ciri-ciri mana yang
harus/boleh/tidak boleh homogen.
Menyusun
Pertanyaan FGD
Kunci
dalam membuat panduan diskusi yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan
kunci sebagai panduan diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan
hal-hal berikut:
-
Baca lagi tujuan penelitian
-
Baca lagi tujuan FGD
-
Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin Anda dapatkan dari FGD
-
Bagaimana Anda akan menggunakan informasi tersebut
-
Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya jangan lebih dari 5 (lima)
pertanyaan inti.
-
Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana dan jelas. Hindari konsep besar
yang kabur maknanya.
-
Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada teman-teman dalam tim Anda.
Berbeda
dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan
semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu
permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam prosesnya
memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai ketrampilan
mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau agar diskusi
tidak macet (Irwanto, 2006: 2)
Pelaksanaan
FGD
Keberhasilan
pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang
Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya,
baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang
tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian).
Peran-peran tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c)
melakukan refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f)
melakukan blocking dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan
memberi kesempatan yang lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i)
melerai perdebatan, (j) memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan
(l) menutup FGD.
Dalam
pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah
permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal
moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat
datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3)
membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang
akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama
sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon
dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi
efisisensi proses diskusi tersebut.
Analisis
Data dan Penyusunan Laporan FGD
Analisis
data dan Penulisan Laporan FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti.
Langkah-langkahnya dapat ditempuh sebagai berikut:
1.
Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD
2.
Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat transkrip/verbatim)
3.
Baca kembali hasil transkrip
4.
Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol dan berulang-ulang muncul
dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau topik. Kegiatan ini
sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk mengurangi “bias” dan
“subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan dengan mengikuti
Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa merujuk catatan
yang dibuat selama proses FGD berlangsung.
5.
Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang muncul dalam FGD biasanya
mencakup:
a.
Konsensus
b.
Perbedaan Pendapat
c.
Pengalaman yang Berbeda
d.
Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.
6.
Buat koding dari hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik,
misalnya tentang Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:
Kode
1 untuk perilaku seks remaja
Bisa
dipecah lagi menjadi:
Kode
1a : aturan/nilai-nilai menyangkut perilaku seks remaja
Kode
1b : pengalaman seksual
Kode
2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,
Bisa
dipecah lagi:
Kode
2a : masalah tiadanya informasi kesehatan reproduksi
Kode
2b : masalah tidak adanya pelayanan untuk remaja, dst
Kode
3 untuk kebutuhan remaja
Menurut
Irwanto (2006: 82-86), dalam melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal
berikut:
Periksa dahulu,
apakah tujuan FGD tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan
yang ditanyakan (dieksekusi) apakah sesuai dengan rencana awal?
Adakah perubahan
dalam tujuan FGD yang terjadi karena input dari peserta?
Identifikasi
masalah utama yang dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema
sentral dalam TOR FGD.
Adakah variasi
peserta dalam persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa?
(Perbedaan-perbedaan yang muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai
yang hanya berbeda sedikit saja. Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus
disajikan dalam laporan.
Selain persoalan
utama itu, adakah persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam
diskusi? Apa saja? Mana yang relevan dengan tujuan FGD?
Buatlah suatu
kerangka prioritas dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat
sumber daya peneliti dan stakeholders, pilihlah masalah-masalah apakah
dapat diselesaikan dapat diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau
panjang. Selain itu coba dipilih persoalan yang tidak kunung selesai,
misalnya yang menyangkut perubahan apda tingkat makro (terutama struktur
ekonomi dan politik).
Lakukan koding
sesuai dengan faktor-faktor yang dikehendaki.
Setelah
pekerjaan di atas selesai, baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara
berikut:
Tuliskan
topik-topik/masalah-masalah yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu
tuliskan juga “kutipan-kutipan langsung” (apa kata orang yang berdiskusi)
mengenai masalah tersebut
Bahas
topik-topik atau masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti.
Lakukan topik demi topik, sampai semua topik/masalah penting selesai
dilaporkan dan dibahas.
Tidak
boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini:
(a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa
ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e)
tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan
FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama
proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.
Catatan
Penting:
Perlu diingat
bahwa jika dalam sebuah wawancara pribadi, peneliti dihadapkan pada data
individual—bukan sebuah proses kelompok—maka dalam FGD peneliti akan
memperoleh data individu sekaligus kelompok.
Semua pekerjaan,
mulai dari mengumpulkan data, membahas hasil, mencari topik yang penting
dalam transkrip, membahas kembali topik-topik itu, sampai menuliskan
laporan harus dilakukan dengan tim atau paling tidak berpasangan untuk
menghindari pendapat subjektif pribadi. Bila dilakukan dalam tim maka
laporan bisa mendekati keutuhan karena berbagai pandangan saling
melengkapi.
[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti
di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan
Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.