MAHAKARTA

MAHAKARTA

Kamis, 20 November 2014

IMPK/Navigasi


SATUAN MANGGALA YUDHA 
UMBY

Teknik Peta Kompas

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis menyamakan utara
peta dengan utara magnetis). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada
dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bikit, sungai,
atau tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan
dengan gambar kontur yang ada dipeta, untuk keperluan praktis, utara magnetis dianggap sejajar dengan utara
sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :

a) Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok; b) Letakkan peta pada bidang
datar; c) Letakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas,
dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi. d) Cari tanda-tanda medan yang
paling menonjol disekeliling dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan. e)
Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan
yang khas dari setiap tanda medan.

2. Azimuth dan Back Azimuth

Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju,azimuth juga
sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam. Ada tiga macam azimuth yaitu : a) Azimuth
Sebenarnya,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran; b) Azimuth
Magnetis,yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran; c) Azimuth Peta,yaitu besar sudut
yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.

back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara menghitungnya : bila sudut azimuth
lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180 derajat maka
sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat
atau 360 derajat.

3. Resection

Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang
dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak
selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu
punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang dibidik. Langkah-langkah resection :
a) Lakukan orientasi peta; b) Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal dua buah; c)
Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu; d)Bidik dengan kompas tanda-tanda
medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth; e) pindahkan sudut bidikan yang didapat
ke peta, dan hitung sudut pelurusnya; f) perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah
posisi kita di peta

4. Intersection

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di pet dengan menggunakan dua atau lebih tanda
medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda
yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di peta.
Langkah-langkah melakukan intersection : a) lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita; b)bidik obyek
yang kita amati; c) pindahkan sudut yang kita dapat dipeta; d) bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut
di peta, lakukan langkah b dan c; e) perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi
obyek yang dimaksud.

5. Koreksi sudut

Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya
tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat,
selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari
kompas(azimuth)yaitu :

A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)

B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)

Keterangan:

Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)

= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat
tanda (+)

Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)

=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.

Contoh Perhitungan:

Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit
ketimur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?

P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase

besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit

= 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit)

sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat)

= 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat.
6. Analisa Perjalanan

Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang akan kita lalui,
dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak, waktu dan tanda medan.

a. Jarak

Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah jarak yang
sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan)
lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalihkannya dengan skala untuk
memperoleh jarak sebenarnya.

b. Waktu

Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang
diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk menganalisa perjalanan dan menjadi
pedoman dalam menempuh perjalanan.

c. Medan Tidak Sesuai Peta

Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak sungai-sungai
kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim kemarau. Ada kampung yang
sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lain yang mungkin terjadi.

Bila anda menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti,
lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak sekali perubahan yang terdapat pada
peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat
dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah
(mengikuti punggungan yang salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta
1:50.000 atau 1:25.000 umumnya cukup teliti.

NAVIGASI SUNGAI

1. Pendahuluan

Dalam perjalanan menyusuri sungai, baik berjalan kaki atau dengan perahu, kita dituntut untuk menguasai
navigasi sungai seperti halnya navigasi darat dalam perjalanan gunung hutan. Secara praktis ilmu navigasi sungai
telah lama dikenal oleh orang dayak di pedalaman kalimantan. Sebab sungai merupakan satu-satunya sarana
angkutan bagi mereka. Dan dalam penentuan kedudukannya di sungai, mereka menggunakan tanda-tanda alam
yang berupa riam, belokan sungai, penyempitan/pelebaran sungai, muara dan lainnya.

2. Pengertian Navigasi Sungai

Navigasi sungai adalah teknik untuk menentukan kedudukan secara tepat dalam perjalanan penyusuran sungai.
Perbedaan yang mendasar antara navigasi sungai dan navigasi darat terletak pada acuan dasar untuk menentukan
kedudukan. Pada navigasi darat, yang diambil sebagai acuan dasar adalah bentuk permukaan fisik bumi yang
digambarkan oleh garis kontur, sedang pada navigasi sungai acuan dasarnya adalah bentuk dari tepi kiri dan
kanan sungai, yaitu belokan-belokan sungai yang tergambar di peta.

3. Perlengkapan Navigasi sungai

a. Peta
Ada dua macam peta yang digunakan yaitu:

1. Peta situasi sungai, peta ini tidak mempunyai
garis kontur, yang tergambar adalah sungai dan
desa yang ada di sepanjang daerah aliran sungai.
Skala peta yang dipakai sebaiknya 1:50.000 atau
1:25.000, yang cukup jelas menggambarkan kondisi
fisik sungai. Peta ini umumnya dibuat oleh
perorangan yang pernah tinggal atau melakukan
survey dan pemetaan disepanjang sungai tersebut.

2. Peta topografi, mempunyai kelebihan jika
dibandingkan dengan peta situasi karena dapat
membantu membaca kondisi alam di sekitar sungai
seperti berupa rawa, tebing, bukit maupun
pegunungan.

b. Kompas

Digunakan untuk menentukan sudut belokan-belokan sungai, kompas bidik dan kompas orienteering dengan
keakuratan yang baik dapat digunakan untuk keperluan ini.

c. Alat Tulis

Berupa kertas tulis, busur derajat, penggaris dan alat tulis. Dipakai untuk menentukan posisi, setelah terlebih
dahulu membidik sudut kompas dari sungai dan melakukan penaksiran jarak.

d. Altimeter

Altimeter bukan merupakan peralatan yang paling utama untuk menentukan posisi, tetapi lebih tepat untuk
mengetahui gradien sungai, yaitu beda tinggi antara dua titik di sungai dalam jarak 1 km (contoh gradien sungai 9
m/km, yaitu beda tinggi 9 m antara dua titik yang berjarak 1 km). Karena perbedaan tinggi pada penurunan sungai
relatif kecil untuk tiap km panjang sungai, maka sebaiknya digunakan altimeter yang cukup teliti, misalnya
dengan kemampuan membaca perbedaan tinggi sampai 10 meter (sebagai gambaran, untuk sungai yang berarus
deras dan banyak air terjunnya, perbedaan sungai rata-rata untuk tiap kilometer hanya sekitar 40 meter).

4. Menentukan Kedudukan Pada Peta

Dilakukan dengan cara bergerak menyusuri sungai sambil memperhatikan perubahan arah belokan sungai,
dibantu dengan tanda-tanda alam tertentu yang terdapat disepanjang sungai. Ada dua cara yang dapat dipakai
untuk menentukan kedudukan:

a. Dengan Bantuan Tanda-Tanda alam

Misalnya kita sedang melakukan penyusuran sungai dari titik A ke titik B, kemudian pada suatu tempat dijumpai
sebuah muara anak sungai di sebelah kiri, untuk menentukan kedudukan pada saat ini adalah: Lakukan orientasi
peta, kemudian amati sekitar medan dengan teliti, ukur sudut kompas (azimuth) dari lintasan sungai pada belokan
di depan dan di belakang dengan menggunakan kompas, ingat tanda alam sebelumnya yang terdapat di belakang (
misalnya di belakang kita terdapat sebuah delta) dan lihat juga tanda alam di depan (misalnya belokan sungai ke
arah kiri), kemudian gambar situasi sungai yang telah di dapat, kemudian cari padanannya pada peta (perlu
diketahui bahwa delta yang terdapat pada sungai adalah delta yang cukup besar, tidak tertutup pada saat banjir,
dan di tumbuhi pepohonan, jika tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak akan digambarkan pada peta.) apabila
masih kurang jelas, maka perlu dilakukan penyusuran sampai pada tanda alam berikutnya yang dapat lebih
memperjelas kedudukan kita.

b. Membuat Peta Sendiri

Teknik pelaksanaannya yaitu dengan penaksiran jarak dan pengukuran sudut kompas (azimuth). Sebelum
melakukan cara ini, sebaiknya mata kita di latih dahulu untuk menaksir jarak, misalnya untuk jarak 50 meter atau
100 meter. Cara termudah adalah dengan berlatih di jalan raya dengan bantuan sepeda motor atau mobil yang
penunjuk jaraknya masih berlaku dengan baik, dapat juga dengan bantuan tiang listrik (setiap 50 meter), patok
kecil di sepanjang jalan raya (100 meter). Jika mata sudah terlatih, dapat dipraktekkan pada jalan dalam kota yang
banyak belokannya. Untuk sungai di daerah hulu yang sempit dan banyak tikungannya, maka di pakai patokan
jarak setiap 50 meter dengan sisa ukuran terkecil adalah 10 meter. Sedangkan untuk sungai di daerah tengah dan
hilir yang relatifr lebih lebar dan lurus (kecuali pada daerah meander), atau jari-jari belokan besar (sudut
belokannya relatif kecil untuk jarak 100 meter), maka dipakai patokan jarak setiap kelipatan 100 meter dengan
sisa ukuran terkecil 25 meter.

Jadi kita membuat sungai menjadi sebuah batang yang terdiri dari banyak ruas panjang dan pendek, yang
berbelok-belok sesuai dengan sudutnya. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan sungai
adalah : sediakan peralatan yang diperlukan, buat tabel pada kertas yang terdiri dari dua kolom, kolom pertama
untuk derajat (azimuth)dan kolom kedua untuk jarak (meter). Jika ingin lebih teliti dapat ditambahkan dua kolom
lagi, yaitu untuk lebar sungai dan keterangan yang diperlukan (misalnya jika ada penyempitan, batu besar di
tengah sungai, tebing terjal di kiri dan kanan sungai dan lainnya), bidik kompas pada awal pergerakan, dan taksir
jaraknya dengan mata yang sudah terlatih, isikan hasil bidikan pada kolom 1 dan 2, jika menggunakan perahu
sebaiknya dilakukan dari tengah sungai, hitung jaraknya sambil bergerak maju setiap 50 dan 100 meter. Setelah
sampai pada batas yang telah ditentukan dari ruas sungai, lakukan pembidikan dan taksirkan jaraknya kembali,
ulangi sampai melampaui 3 belokan sungai, kemudian buat gambar sungai tersebut berdasarkan hasil catatan yang
ada pada tabel, skala dapat di misalkan 1 cm untuk 100 meter atau lebih kecil lagi, kemudian cari padanan atau
bentuk yang mirip dari gambar sungai yang kita buat dengan peta sungai yang kita bawa, dengan demikian
kedudukan kita di peta dapat ditentukan yaitu pada titik terakhir yang kita buat, jika belum di dapat juga ulangi
sampai beberapa belokan lagi.

NAVIGASI RAWA

Navigasi rawa adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di medan rawa. Navigasi rawa
merupakan navigasi pada daerah dataran sehingga prinsipnya sama dengan navigasi gurun pasir. Tidak ada tanda
ekstrim (bukit atau lembah) yang dapat dijadikan patokan. Jika pada rawa daerahnya datar dan kadang di penuhi
aliran sungai yang dapat berubah akibat banjir, maka pada gurun pasir pun daerahnya selalu berubah-ubah akibat
tiupan angin. Seperti pada navigasi darat (gunung hutan), maka langkah pertama yang paling penting sebelum
memulai perjalanan adalah mengetahui letak titik pemberangkatan di peta. Tanda-tanda medan yang dapat
dijadikan sebagai patokan adalah sungai, lokasi
desa terdekat, garis pantai (jika dekat dengan
pantai), jadi perlu diperhitungkan kecermatan
orientasi medan yang teliti.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
navigasi rawa adalah:

1) tentukan titik pemberangkatan kita di peta;
2) bidik arah perjalanan yang diambil, catat sudut kompasnya;

3) ukur dan catat jarak tempuh perjalanan dengan sudut kompas tersebut, lakukan terus untuk setiap bagian
perjalanan sampai menemukan tanda yang dapat dijadikan patokan, misalnya sungai, jika belum dijumpai,
lakukan terus sambil mencari tempat beristirahat. Cara mengukur jarak: a) Dengan penaksiran jarak (jika sudah
mahir), seperti navigasi man to man atau pemakaian back azimuth pada navigasi gunung hutan, pemegang
kompas berjalan di belakang dan rekan lainnya berjalan menurut sudut kompas. Batas jarak pengukuran untuk
satu segmen tergantung dari mata dan telinga, artinya sampai batas pengelihatan jika medannya tertutp atau
sampai batas pendengaran jika medannya terbuka, jadi panjang suatu segmen relatif, tergantung medan yang
dihadapi; b) Dengan menggunakan pita ukur atau tali, caranya sama seperti di atas, tetapi didapat hasil yang lebih
teliti; c) Dengan alat bantu ukur yang di pasang pada pinggang pemegang kompas, yaitu pemegang kompas
berjalan paling belakang, rekan yang di depan membuka jalur sesuai arah sudut kompas, ikat ujung benang pada
titik awal pada saat membelok atau merubah arah, lihat angka yang tertera pada alat pengukur tersebut. Putuskan
benang dan ikat kembali ujung yang baru pada titik belok; d) Dengan alat pengukur langkah yang dipasang pada
pinggang bagian depan. Catat jumlah langkah untuk setiap arah sudut kompas. Ambil patokan 10 langkah sama
dengan beberapa meter, atau kelipatan yang habis dibagi dengan 10;

4. Plot hasil pengukuran tersebut pada peta, pergunakan skala peta yang sesuai dengan skala peta yang dimiliki,
jika pengukuran jarak dan sudut kompas teliti maka akan didapat hasil yang akurat.

5. Pemeriksaan posisi akhir dengan orientasi medan. Jika tersesat, minimal kita mempunyai catatan perjalanan
untuk kembali ke tempat semula.

6. Jika sudut kompas dan jarak tempuh sudah ditentukan, maka plot di peta arah lintasan kita. Lakukan perjalanan
dengan sudut kompas tersebut dan pergunakan cara melambung jika medannya tidak memungkinkan untuk
dilalui, dengan tidak melupakan poin 2 dan 3.

Catatan: cara berjalan di rawa

a. Bawa tongkat dan tali. Tongkat untuk mengukur kedalaman lumpur rawa, dan tali untuk membantu menarik
teman yang terbenam.

b. Berjalan secara beriringan. Usahakan bejalan berdekatan dengan tanaman yang ada, injak bekas tumbuhan
semak, rumput, atau akar tumbuhan yang ada kaarena tanahnya relatif lebih keras.

c. Tebas ranting pohon, dan letakkan secara melintang pada jalur yang akan diinjak, gunanya untuk menahan
lajunya turunnya badan kita ke dalam rawa, prinsipnya sama seperti orang berjalan di atas salju yang lunak
dengan menggunakan sepatu ski, semakin luas permukaan yang diinjak, maka semakin ringan beban yang
ditanggung oleh salju.

d. Waspadalah terhadap binatang yang banyak terdapat di sekitar tanaman yang tumbuh di daerah rawa, umunya
mereka berbisa.

NAVIGASI PANTAI

Navigasi pantai adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di daerah pantai. Navigasi pantai jauh
lebih mudah jika dibandingkan dengan navigasi rawa dan sungai, sebab sebuah garis posisi sudah diketahui, yaitu
sebuah garis tepi pantai, jadi hanya dibutuhkan sebuah tanda lagi untuk melakukan resection. Tanda-tanda medan
yang dapat dijadikan patokan adalah: - sudut arah dari garis pantai; - tanjung atau teluk; - muara sungai;- pulau
atau karang yang terdapat disekitar pantai; - bukit yang terdapat didaerah pantai; - kampung nelayan
Jika sudah terlatih navigasi gunung hutan, maka navigasi di daerah pantai tidak menjadi masalah, karena pada
navigasi pantai lebih ditekankan pembacaan peta. Tanpa bantuan kompaspun sebenarnya kita dapat berjalan di
tepi pantai, kompas dibutuhkan jika harus melakukan perjalanan potong kompas, menghindari rintangan yang
berupa tebing terjal yang tidak mungkin untuk dilewati.

Langkah-lagkah yang harus dilakukan dalam navigasi pantai:

1) Plot posisi kita dengan cara resection.

2) Berjalan mengikuti garis pantai selama masih memungkinkan.

3) Catat waktu perjalanan untuk waktu yang berbeda atau tiap menjumpai tanda yang mudah dikenal. Ini
dilakukan untuk mempermudah kita jika kehilangan posisi. Periksa posisi kita di peta setiap menjumpai tanda-
tanda medan yang mudah dikenal, misalnya tanjung dan muara sungai.

4) Jika menemui rintangan yang berupa tebing karang yang tidak mungkin dilewati, lakukan resection untuk
menentukan posisi terakhir sebelum tebing tersebut. Setelah itu rencanakan perjalanan melambung dengan
bantuan kompas sampai melewati rintangan. Pada tebing karang, umumnya perjalanan harus melewati tanjakan
dan turunan yang terjal.

Apakah Orienteering itu?

Orienteering adalah olah raga yang mana seorang orienteer (pelaku orienteering)
menggunakan peta dan kompas dengan tepat dan akurat untuk menemukan titik
dipermukaan bumi. Hal ini menjadi suatu kenikmatan jika dilakukan di hutan atau
sebagai olahraga yang dilombakan.

Standar jalur orienteering terdiri dari start, rangkaian dari titik kontrol yang
ditandai dengan lingkaran, dihubungkan oleh garis dan angka agar didatangi oleh
peserta,dan finish. Lingkaran pada titik kontrol terletak ditengah tempat yang akan
ditemukan;atau disebut juga deskripsi kontrol (kadangkala disebut petunjuk).
Diatas tanah, bendera kontrol menandakan lokasi dimana orienteer harus
mendatangi lokasi tersebut.

Untuk membuktikan telah datang,seorang orienteer menggunakan "punches"/alat
pelubang kertas atau stempel yang tergantung dekat bendera untuk menandai kartu
kontrol yang dibawanya.Tanda pelubang tidak sama pada tiap titik kontrol untuk membedakan titik kontrol satu
dengan lain.

Jalur antara "control" tidak selalu spesifik, dan ini keseluruhannya tergantung kepada orienteer,pemilihan rute
yang tepat dan kemampuan navigasi adalah esensi utama dari orienteering.

Banyak kegiatan orienteering menggunakan titik start yang sama dengan finish untuk memastikan bahwa tiap
orienteer mempunyai kesempatan untuk memilih rute mereka sendiri, dengan batasan waktu yang telah
ditentukan.

Peta

http://bp1.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BOKcUeHnI/AAAAAAAAAFY/aO2qDUGZr-Q/s320/10.bmpMeskipun mungkin untuk melakukan orienteering dengan sembarang peta, tetapi
akan lebih mudah lagi jika menggunakan peta yang khusus untuk orienteering.
Selain petanya akurat dan detil, peta tersebut disiapkan dengan skala manusia,
daerah-daerah dan perkembangan wilayah dipetakan sehingga apa yang nampak
di peta adalah hasil dari pembangunan manusia, dan perluasan wilayah
berlangsung dengan cepat.

Peta orienteering berkembang dengan cepat kurang lebih 50 tahun yang lalu.
PAda tahun 1940an, kegiatan orienteering di Skandinavia menggunakan peta 1 :
100.000 (1 cm : 1 Km),menggunakan peta terbitan pemerintah, kadang hitam
putih dan tanpa garis kontur untuk menampilkan bentuk dari daratan. Dewasa ini,
banyak kegiatan orienteering dilaksanakan dengan peta 5 warna yang memakai
interval kontur 5 meter dan memakai skala 1 : 10.000 (1 : 100 meter).

Banyak ciri-ciri peta orienteering yang berhubungan dengan peta untuk mendaki
gunung dan peta yang digunakan umumnya yang dibuat oleh pemerintah.
Bagaimanapun, satu gambaran dari peta orienteering yang spesifik adalah : garis
utara peta. Pada contoh terlihat disini, garis tersebut digambarkan dengan warna
biru (pada beberapa peta berwarna hitam). Garis utara peta adalah garis
lurus/sejajar yang membujur dari selatan magnetiske utara magnetis, dan membentang sepanjang 500 meter pada
peta. Mengapa garis utara pada peta orienteering tidak sama dengan utara sebenarnya? sebab sudut antara utara
magnetis dan utara sebenarnya (deklinasi) sangatlah besar pada beberapa tempat di dunia, dan alasan orienteer
menggunakan kompas untuk menentukan arah nmeraka sendiri (kearah utara magnetis, bukan utara sebenarnya,
ini menjadi standar untuk garis patokan pada peta sehingga mudah untuk menggunakan kompas orienteering
untuk menentukan sudut kompas.

Beberapa aturan umum untuk simbol peta orienteeting dibuat agar sistem mudah dimengerti.

Simbol Peta Orienteering:

Simbol hitam digunakan untuk
bentukan batuan sebagai contoh batu besar, tebing, tanah berbatu) dan
untuk
tampilan garis seperti jalan,jalan setapak, gang sama seperti bangunan bangunan buatan manusia
(sebagai contoh, reruntuhan dan gedung-gedung)
Simbol coklat digunakan untuk
bentukan tanah seperti garis kontur, retakan tanah, bukit kecil.
Biru digunakan untuk
bentukan air: danau, kolam,sungai, jeram,rawa-rawa.
Kuning untuk menampilkan
vegetasi - khususnya untuk tanah terbuka tanpa hutan. Kepadatan dari
warna kuning menunjukkan : warna kuning terang untuk padang rumput, kuning pucat untuk padang
rumput dengan rumput yang tinggi.
Hijau digunakan untuk menunjukkan
vegetasi yang menghambat pergerakan dari seorang orienteer.
Daerah yang berwarna paling hijau, disebut "fight", yang hampir tidak mungkin untuk dilalui.
Putih di peta orienteering menunjukkan hutan dengan sedikit atau tanpa tanaman dibawah pohon - hutan
yang dapat dilaluio oleh orienteer dengan mudah.
Ungu (atau merah) digunakan untuk menandai
jalur orienteering di peta. Kondisi yang spesifik untuk
kegiatan orienteering (seperti tempat untuk outbound dimana tanaman pertanian tumbuh) juga didesain
dengan warna merah.

SIMBOL PETA ORIENTEERING

Bentukan tanah

http://bp0.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BHDMUeHdI/AAAAAAAAAEI/k1p-dwCnSxI/s320/11.bmp













Bentukan Air
http://bp1.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BO4cUeHoI/AAAAAAAAAFg/22sLb0OdHEI/s320/12.bmp













Tampilan Garis
http://bp0.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BPvMUeHpI/AAAAAAAAAFo/gJpScXgnrOk/s320/13.bmp













Bangunan Buatan Manusia
http://bp1.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BQYcUeHqI/AAAAAAAAAFw/qxtUE2StZxU/s320/14.bmp












Bentukan Batuan
http://bp0.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BRXMUeHrI/AAAAAAAAAF4/sXGclo2zvnI/s320/15.bmp











Vegetasi
http://bp2.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BSOsUeHsI/AAAAAAAAAGA/IFENJLw0dtM/s320/16.bmp











Sebuah Jalur Orienteering

Sebagian besar jalur orienteering adalah titik-titik yang beraneka ragam, dengan start,
yaitu sebuah rangkaian dari kontrol yang harus didatangi dan telah dirancang secara
berurutan, dan finish. Biasanya orienteer tidak melihat peta dan jalur sampai sesaat
sebelum dimulai start. Bagaimanapun, pada lomba tingkat lokal yang kecil, petanya
mungkin sudah akrab, dan para orienteer dapat mengkopi jalur ini dari peta induk
sebelum di mulai lomba. Ada beberapa jalur-jalur yang tersedia pada satu pertandingan.
Penggolongan dimulai dari putih (jalur pendek untuk pemula) kemudian kuning, oranye,
hijau, coklat, merah dan biru (jalur yang panjang untuk ahli).

Ini adalah contoh dari jalur pemula. Peta ini memiliki 4 kontrol yang harus didatangi
secara berurutan yang mana kontrol tersebut saling berhubungan dan diberi nomor,
walaupun orienteer tidak dipaksa untuk mengikiti garis (hal ini lebih mudah untuk keluar
sedikit dari jalan yang telah ditentukan dan menggunakan jalan setapak). Dengan jalur
yang menjadi sebuah lembaran petunjuk, menjelaskan lokasi yang tepat dari bendera
kontrol di dalam lingkaran pada peta.

Lembaran petunjuk pada jalur ini adalah:

PUTIH 3.5 km , menanjak 75 m
Start: pojok dari peta

l 1 l BL l persimpangan jalan l
l 2 l JC l percabangan sungai l
l 3 l PG l ujung barat daya dari hutan l
l 4 l MP l barat daya akhir dari bukit kecil l
l 5 l BL l bagian atas dari lembah kecil l

Finish: Pojok timur laut dari gedung (350 m)

Penjelasan petunjuk:

Nomor dari kontrol (tampak pada peta)
Kode kontrol (biasanya dua huruf) yang akan dipasang pada bendera di lokasi yang sebenarnya
Deskripsi dari ciri-ciri kontrol, termasuk(secara tepat) bagian dari ciri-ciri dimana bendera digantung.

Karena deskripsi lisan menjadi agak berubah-ubah, sebaiknya spesifik ke bahasa dari penyelenggara kegiatan,
para orienteer yang lebih maju menggunakan sistem dari simbol untuk meberi definisi petunjuk. Simbol petunjuk
saling berhubungan tetapi mirip dengan simbol peta, dan sistem simbol petunjuk internasional sangat berguna
untuk dipelajari untuk kemajuan seorang orienteer di luar tahap pemula.
Sekilas Tentang Orienteering


Orienteering berarti peta, hutan dan petualangan. tidak menjadi masalah
apakah itu orang muda ataupun tua. anda dapat berlari dengan cepat, berlari
dengan pelan ataupun berjalan. Anda dapat memulainya sesuai dengan
keinginan dan memilih rute anda sendiri antara marker/tanda merah atau
putih. Jika anda ingin sesuaitu yang menyenangkan, udara segar,
menjelajahi wilayah pedesaan - orienteering dapat menjadi olahraga yang
cocok bagi anda!

apakah orienteering? Orienteering adalah olahraga dimana pesaing nenentukan arahnya sendiri antara titik kontrol
atau khususnya yang tergambar di peta. Ada berbagai macam orienteering, yang paling umum adalah orienteering
dengan berjalan kaki. Untuk kegiatan ini, jalur membentang sepanjang kurang lebih 2 km untuk pemula dan anak-
anak sampai 12 km untuk orienteer dewasa yang sudah berpengalaman. Pada beberapa kegiatan orienteering ada
beberapa jalur untuk pemula dan untuk yang sudah ahli. Banyak Kegiatan orienteering di mulai pada kegiatan
yang diberi kode warna (C4).

Mengapa Melakukan Orienteering? Orienteering mengambil lokasi di berbagai tempat di alam terbuka, dari
taman kota sampai pedesaan hutan dan moorlands. Anda dapat menikmati pemandangan pedesaan, yang
kadangkala belum pernah anda kunjungi, hal ini mudah, jalan yang tidak melelahkan menjadi tetap bugar.

d Orienteering adalah olah raga yang sempurna untuk pelajar. Karena mempunyai jalur yang menantang untuk
segala usia dan kemampuan, dan dapat digunakan sebagai elemen di kurikulum nasional untuk IPA, Geografi dan
Mathematika. Orienteering adalah sebuah aktivitas yang dapat dilakukan di halaman sekolah sama baiknya
dengan di daerah pedesaan.

Pemilihan Jalur pada Orienteering

Navigasi pada orienteering dapat dibagi dalam dua faktor:

memilih satu dari beberapa rute yang mungkin untuk mencapat kontrol point
menemukan jalan anda sendiri sepanjang rute
Sekali anda belajar beberapa teknik dasar orienteering dan teknik navigasi, anda akan selalu dapat menemukan
kontrol - jika peta yang diberikan akurat. Oleh karena itu, banyak perbedaan waktu individual dapat terjadi karena
pemilihan rute. Ini memang benar adanya ketika kecepatan melewati wilayah bervariasi secara dramatis di tempat
yang berbeda-beda, yang mana dapat terjadi oleh banyak alasan:
jalan setapak di hutan lebih cepat dilewati
vegetasi dipeta yang berwarna hijau dapat memperlambat perjalanan
jalan menanjak dan kemudian menurun mungkin lebih lambat dibandingkan jalan mendatar
jalur lebih cepat yang potensial mungkin tanpa bantuan navigasi, ketika rute yang lebih panjang/pendek
menyediakan pendekatan navigasi yang mudah ke titik kontrol.
Faktor lain adalah tiap-tiap individu mungkin mempunyai kekuatan yang berbeda-beda; seorang mungkin berlari
sangat cepat di jalan setapak, tetapi lambat secara drastis ketika masuk hutan; yang lain mungkin tidak
mempunyai kecepatan yang baik, tetapi tangguh ketika jalan menanjak; yang lain lagi mungkin tidak punya
kepercayaan diri dalam kemampuannya membaca kompas, tetapi mungkin sangat baik dalam hal membaca
kontur. Jalur terbaik untuk pemula mungkin bukan jalur terbaik unruk para orienteer yang ahli.
Pilihan rute yang diberikan pada lomba diantara titik-titik kontrol mungkin mempunyai banyak solusi pilihan
jalur yang terbaik. Tetapi, solusi jalur yang terbaik mungkin tidak menguntungkan ketika seorang orienteer tidak
merencanakannya secara cermat.
Sebagai contoh, peta diatas dimana didalamnya terdapat pilihan jalur/rute dan variasi-variasinya yang diberikan
kepada orienteer papan atas pada Kejuaraan Nasional swedia beberapa tahun yang lalu. Tiap jalur orienteer
ditampilkan oleh satu garis merah, dan tempat dimana beberapa individu memakai jalur yang sama, nomor
berwarna merah ditampilkan berapa banyak orienteer mengikuti beberapa
bagian dari jalur. Beberapa tempat tidak bisa dilewati karena tanaman
pertanian sedang tumbuh dan ditandai dengan silang merah.
Meskipun ini mungkin contoh yang ekstrem, hal ini menunjukkan variasi
dari jalur (dan kombinasi subset dari jalur) yang dapat terjadi pada single
leg.


http://bp1.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BU6cUeHvI/AAAAAAAAAGY/_2zEBGxt4Do/s320/20.bmpTipe-Tipe Kompas

Kompas yang baik mempunyai cairan yang terdapat di dalamnya; cairan
tersebut mengatur gerakan dari jarum, sehingga anda dapat menggunakan
kompas dengan baik walaupun memegangnya kurang dengan sempurna.
Jangan membeli kompas yang murah tetapi tanpa cairan yang terdapat di
dalamnya. Jarum kompas diwarnai dalam dua warna. Jika kompas
digenggam secara benar (mendatar), ujung warna merah mengarah ke utara,
dan putih mengarah ke selatan. An interesting detail is that there are
northern- and southern-hemisphere compasses. This has to do with the fact
that the magnetic field lines, to which a compass needle aligns, point into the earth at the north and south
magnetic poles. Ketika anda menggunakan kompas utara hemispher di, katakanlah, austeralia, arah selatan dari
magnet mengarah kebawah oleh medan magnet, dan juga lebih berat dibanding arah utara - hasil di jarum yang
dapat ditangkap dan ditarik pada dasar kompas ketika kompas diletakkan secara horizontal. When you use a
northern hemisphere compass in, say, Australia, the south end of the magnet is pulled downwards by the magnetic
field, and is also heavier than the north end - resulting in a needle that catches and drags on the bottom of the
compass housing when the compass is held horizontal.
A good compass will last a long time. However, some things can go wrong with a compass: the plastic
components can break, or the housing can develop a leak. Over time, the fluid within the housing may turn an
opaque blue-green. And, very rarely, the magnetization of the compass needle may reverse, so that the south end
now points to north.

Ada Dua Tipe Kompas Orienteering :

baseplate atau kompas protractor

Kompas tipe ini ditemukan oleh Kjellstrom bersaudara semasa perang dunia II dan terdiri atas sebuah rectangular
baseplate, yang ditandai dengan panah warna merah sepanjang axis, dan lingkaran kompas ditandai derajat
(hampir di seluruh dunia untuk lingkaran penuh adalahy 360 derajat , tetapi sebagian belahan eropa menggunakan
400 derajat). Tanda dibagian dasar rumah kompas adalah sebuah panah dan
sebuah garis paralel di dalam panah tsb. tampilan tambahan mungkin
termasuk lanyard untuk memasang kompas di pinggang, garis skala untuk
http://bp2.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BWYsUeHwI/AAAAAAAAAGg/MI_-zB-fJ7s/s320/21.bmp
ukuran jarak peta sepanjang satu atau lebih ujung dari baseplate, sebuah
cermin untuk membaca peta secara detail, dan lubang berbentuk lingkaran
dan segitiga untuk menandai jalur orienteering diatas peta.

Kompas Jempol / Ibujari

Di pertengahan tahun 1980 an, sebuah organisasi orienteering top dari Swedia
membuat terobosan untuk mengganti kompas baseplate dengan mempertajam
baseplate dan membuat lubang untuk memasang kompas tsb di jempol.
Kompas ini lalu dipasang di jempol tangan kiri, diletakkan di atas kompas
yang juga dipegang dengang tangan kiri pula. Keuntungan dari sisitem ini adalah peta dan
kompas selalu di baca dalam satu unit, peta menjadi lebih mudah di baca dan cepat,
http://bp2.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BYfsUeHxI/AAAAAAAAAGo/7-457jK5gX8/s320/22.bmpditambah satu tangan bebas bergerak; kekurangan adalah sudut yang sangat akurat sesuai
dengan sudut kompas sangat sulit diambil. Kesukaan seseorang biasanya menentukan
pemakaian tipe kompas yang akan dipakai; kejuaraan dunia memperbolehkan penggunaan
kedua tipe kompas tersebuat.

Menggunakan tipe kompas yang lain, ada dua skill dasar yang dibutuhkan seorang orienteer
:

Membaca Peta
Mengambil Sudut



Menggunakan kompas untuk membaca peta

Ini adalah teknik yang sederhana, dan ini mungkin kegunaan kompas yang paling penting :
Pegang kompas secara horizontal.
Letakkan kompas mendatar di atas peta.
putar peta sampai "garis utara" dari peta sejajar/satu garis lurus dengan jarum kompas.
Arah peta sekarang sudah sama dengan medan yang sebenarnya. Ini membuat lebih mudah dibaca, seperti
membaca tulisan akan lebih mudah dari atas ke bawah.


Mengambil sudut

Setiap arah dapat dinyatakan sebagai sebuah sudut dengan acuan arah utara. di dalam kemiliteran atau
kepramukaan, ini dinamakan sebuah "azimuth", dan sudut-sudutnya dinyatakan oleh angka dengan satuan derajat.
Orienteer mempunyai cara yang mudah, hanya mengatur sudut pada kompas mereka dan menjaga jarum tetap dan
tidak berubah, yang mana akan membawa mereka ke arah yang di tuju. Cara mudah mengatur arah pada kompas
orienteering adalah :
letakkan kompas di atas peta sehingga jarum kompas mengarah ke atas sesuai dengan jalan yang ingin anda tuju
putar rumah kompas sehingga jarum kompas paralel dengan arah utara yang terdapat di peta (pastikan titik panah utara dan bukan selatan)
take the compass off the map and hold it in front of you so that the direction of travel arrow points directly ahead of you
rotate your body until the compass needle is aligned with the arrow on the base of the compass housing
pick out a prominent object ahead of you along the direction of travel, go to it, and repeat the process
(this way you can detour around obstructions but still stay on your bearing)


<>

Bagaimana anda tahu telah menemukan titik kontrol?

Bendera titik kontrol ditandai dengan lingkaran di peta. Bendera titik kontrol ini biasanya buatan pabrik
digantung pada sebuah kotak segitiga seperti layang-layang dengan kerangka dari kawat. Tiap tiga segi empat
http://bp1.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BZ-cUeHyI/AAAAAAAAAGw/4j-C0gp0BUY/s320/23.bmpbagian sisi-sisinya terbagi menjadi dua warna, segitiga bagian atas berwarna putih dan segi tiga bagian bawah
berwarna oranye. Di Amerika Utara, bendera biasanya digantung pada cabang pohon atau
kayu dekat titik kontrol, sedangkan di Eropa bendera biasanya digantung di tiang kayu atau
taing logam yang ditancapkan kedalam tanah.

Ditempelkan atau diletakkan dekat bendera kontrol satu atau lebih dan sebuah kartu dengan
" kode kontrol". Tiap bendera ditandai dengan kode kontrol yang unik dan tidak ada yang
sama, biasanya terdiri atas kombinasi dua huruf (angka boleh digunakan, tetapi aturan
internasional menyatakan bahwa angka 1-40 tidak diperbolehkan untuk kode kontrol).
Kode-kode ini biasanya terdaftar pada petunjuk yang menjelaskan kontrol pada tiap jalur,
dan banyak orienteer menulis kode kontrol di kotak koresponden pada kartu kontrol, untuk
memastikan bahwa mereka tidak melobangi kontrol yang salah atau pada kotak yang salah dari kartu pelobang. .

Bagaimana anda membuktikan jika telah mengunjungi titik kontrol?
Pelobang diletakkan atau digantung dekat bendera kontrol. Pelobang untuk orienteering adalah alat dari pastik
berwarna merah terang dengan nomor dari gigi logam yang tajam. Orienteer menggunakan pelobang ini dengan
menekan gigi logam yang mempunyai tanda tertentu pada kartu kontrol, di kotak koresponden pada titik kontrol
yang sedang dikunjungi. Ketika titik kontrol telah dikunjungi oleh beberapa peserta, ketika titik kontrol
digunakan oleh beberapa jalur yang berbeda, beberapa alat pelobang, semua menggunakan dengan tanda yang
sama.

Pada garis finish, orienteer memberikan kartu kepada panitia, yang kemudian mengecek apakah pelobangan kartu
kontrol sesuai dengan nomor kontrol tersebut.
http://bp3.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_Bbm8UeHzI/AAAAAAAAAG4/ki_1gaJPytA/s320/24.bmp
kartu Kontrol
http://bp2.blogger.com/_rMoUVC45mYU/R_BcvsUeH0I/AAAAAAAAAHA/Z_40iCTw4iU/s320/25.bmpKartu kontrol dapat terdiri dari banyak bentuk, tetapi yang paling penting
didalamnya terdapat kotak nomor untuk dilobangi. Untuk hampir semua
lomba orienteering, start dimulai secara per individu atau berkelompok,
sehingga tidak ada dua orang atau kelompok pada titik start pada waktu
yang sama. Tujuannya adalah agar tiap individu melakukan navigasinya
sendiri; mengikuti peserta yang lain dilarang dalam peraturan.

Kejuaraan orienteering dunia dan beberapa kejuaraan nasional berdasarkan
pada satu race. akan tetapi, pada kejuaraan orienteering Amerika Utara
biasanya menggunakan dua jalur yang terpisah yang dilaksanakan selama
dua hari (kadang dengan peta yang terpisah pula) total point tertinggi dan
waktu tercepat selama dua hari akan menentukan pemenang, dan kejuaraan
dunia yang terbesar, Sweden's O-Ringen, adalah lomba yang dilaksanakan
selama 5 hari dengan pemenang ditentukan oleh total waktu tercepat.
Banyak lomba termasuk variasi jalur dari tingkat pemula (navigasinya
mudah, sekitar 3 km) sampai kategori tertinggi (sukar, sekitar 10 km). Kejuaraan yang lebih besar juga akan
mempunyai kelas yang berbeda untuk pria dan wanita, dan juga untuk kelompok umur yang berbeda.




Daftar Istilah Orienteering

Aiming Off - tindakan dengan sengaja menuju satu sisi dari titik kontrol atau tempat sehingga anda sudah tahu jalan
singkat atau berputar untuk mencapai kontrol sebelum anda melihat titik kontrol tsb.

attack Point - sebuah tampilan alam dekat dengan titik kontrol yang dapat di temukan tempatnya dengan navigasi yang
cermat dengan menggunakan peta dan kompas.

Sudut Kompas - arah perjalanan yang diketahui melalui kompas.

Catching Feature (juga dinamakan Collecting Feature atau Backstop)- sebuah tampilan di peta dan di alam yang terletak
di luar titik kontrol atau atau setelah melewati titik kontrol yang mengindikasikan bahwa target telah terlewati.

Cek Poin - sebuah tampilan di peta atau tanah yang dapat digunakan bahwa anda masih berada pada rute pilihan anda.

Kontur - garis di peta topografi yang menghubungkan tempat-tempat yang berketinggian sama dari permukaan laut.

Kontrol/ Kontrol Marker/ Marker- sebuah marker berbentuk segi empat (biasanya berwarna oranye atau merah dan putih)
digunakan untuk menandai suatu titik di sebuah jalur orienteering, biaasanya dengan stempel atau pelobang yang
terpasang untuk menandai kartu kontrolsebagai bukti kedatangan peserta.

Kartu Kontrol- sebuah kartu yang dibawa oleh setiap peserta, dimana akan distempel atau ditandai pada tiap titik kontrol
untuk membuktikan kedatangan peserta.

Lingkaran Kontrol - sebuah lingkaran yang digambar mengelilingi titik kontrol di peta untuk mengindikasikan lokasi dari
sebuah titik kontrol. Titik kontrol harus benar-benar berada ditengah-tengah lingkaran.

Kode Kontrol - huruf atau angka pada tanda kontrol yang memungkinkan peserta untuk mengecek ulang bahwa titik
tersebut adalah benar.

Deskripsi Kontrol - daftar yang diberikan kepada tiap peserta yang sangat jelas menerangkan tiap titik kontrol. dan juga
diberikan kode kontrol.

Bentuk Kontrol - suatu tampilan alam atau buatan manusia dimana kontrol tersebut digantungkan.

Tanda Kontrol - see control.

Nomor Kontrol - angka yang digambarkan disamping tiap lingkaran kontrol di peta. Pada jalur lintas alam, nomor
kontroltersebut adalah titik yang wajib didatangi. bagian atas dari angka harus mengarah keatas.

Pelobang Kontrol - pelobang dari plastik kecil dengan desain berbeda dari pin. Digunakan untuk membuktikan tiap titik
kontrol telah didatangi.

Jalur - sebuah rangkaian dari kontrol yang terdapat di peta yang akan didatangi oleh peserta orienteering.

Jalur Lintas Alam - jalur klasik yang digunakan untuk hampir sebagian besar kompetisi. Titik kontrol wajib didatangi oleh
tiap peserta.

Dog-Leg - penempatan posisi dari sebuah kontrol yang favors approaching dan meninggalkan sebuah kontrol dari rute
yang sama, untuk mendahului pesaing yang lain mencapai titik kontrol. Desain jalur yang menghasilkan dog-leg sebaiknya
jangan digunakan.

Orienteering Murni - penggunaan navigasi yang sangat teliti di wilayah yang detil biasanya tergantung penggunaan
kompas, kompas dan penghitung langkah, dan biasanya menggunakan jalur pendek.
Simbol Finish - sama juga dengan lokasi titik start:

Jika lokasinya terpisah dengan titik start:

Melipat Peta - orienteer melipat peta mereka untuk membantu konsentrasi, hanya terpusat pada daerah yang mereka
hadapi, dan untuk mempermudah menentukan posisi mereka.

Handrail - Sebuah garis lurus yang mendekati paralel rute anda dan berfungsi sebagai acuan untuk titik berikutnya.

Knoll- sebuah bukit kecil.

Leg - sebuah bagian dari jalur diantara dua titik kontrol.



Legenda Peta - sebuah daftar dari simbol yang terdapat pada peta.

Tampilan Garis - sebuah tampilan yang mengarah pada satu tempat atau arah untuk jarak yang sama misalnya: jalan
setapak,selokan, dindning batu, dan aliran air. digunakan sama seperti handrail.

garis Lomba - lomba dimana peta ditandai dengan sebuah garis yang mengindikasikan rute yang sebenarnya yang harus
dilalui. Peserta menandai lokasi yang tepat dari tiap kontrol yang mereka temukan sepanjang jalur.

Orientasi Peta - membandingkan kondisi di peta dengan keadaan yang sebenarnya di alam. Ini adalah ketrampilan
mendasar di orienteering, dan berpengaruh terhadap keberhasilan navigasi. Peta dapat diorientasikan hanya dengan
membandingkan keadaan peta dengan wilayah atau dengan menggunakan kompas untuk menentukan arah utara.

Peta Induk/Master Map - sebuah peta yang dipasang dekat titik start yang mana peserta dapat mengkopi jalur mereka
kedalam peta kosong yang mereka buat. banyak orienteer yang berpengalaman akan mengkopi jalur kedalam peta mereka
ketika lomba sudah berjalan. Walaupun mereka diperbolehkan melakukannya sebelum waktu start di mulai. Di lomba yang
lebih besar, jalur sudah dicetak di dalam peta yang akan peserta gunakan.

Penghitung Langkah - sebuah sistem dengan menghitung dua langkah (setiap kali kaki kiri atau kanan menapak tanah)
untuk mengukur jarak yang telah dilalui. Seorang orienteer akan mengukur jarak antara dua titik dengan menggunakan
skala pada kompas dan lalu menghitung langkah mereka sampai jarak sudah tersebut sudah tercapai. Penghitung langkah
membantu seorang orienteer untuk mengetahui ketika mereka mungkin berjalan terlalu jauh atau kehilangan titik kontrol
yang mereka cari.

Tampilan Titik - sebuah tampilan di alam yang hanya mencakup wilayah yang kecil. Contoh di peta adalah boulders, pits
dan mounds, stumps, dan root mounds. Mereka tidak dapat sebagai tempat kontrol untuk sebuah jalur tanpa mereka
berada di handrail.

Sudut Kompas yg Cermat - beberapa kompas dapat digunakan untuk mengambil sudut kompas yang teliti (searah jarum
jam dari utara) yang mana dapat dijadikan patokan di alam terbuka

Pelobang - tindakan untuk menandai kartu kontrol dengan melobangi katru kontrol yang mereka bawa.

Reentrant- sebuah lembah kecil yang menurun kearah kaki bukit. Sebuah sungai memotong kaki bukit yang menciptakan
sebuah tipe bentuk reentrant. pada sebuah peta, garis kontur didiskripsikan sebuah titik reentrant dipuncak bukit.

Sudut Keselamatan/savety bearing - sebuah sudut kompas yang, jika diikuti, akan membuat orienteer yang tersesat
kejalan atau tempat utama lain. Ini mungkin dapat ditambahkan ke dalam daftar deskripsi kontrol sebagai jalur
keselamatan.

Peluit Keamanan - sebuah peluit yang dapat digunakan jika peserta terluka atau tersesat. International Distress Signal
adalah enam (6) tiupan pendek diulang selama interval satu (1) menit.

Skor/Nilai - peserta mendatangi beberapa titik kontrol semampu mereka dalam waktu yang telah ditentukan, misalnya 30
menit. Jika jaraknya bertambah atau titik kontrolnya sulit dicapai maka nilainya akan lebih tinggi dibanding dengan yang
lebih dekat atu lebih mudah di jangkau. Nilai akan dipotong untuk tiap kelipatan waktu ketika orienteer telah melebihi batas
waktu yang disediakan, misalnya 5 angka setiap peserta terlambat satu menit.

Spur - sebuah lembah kecil.

Start Event - sebuah lonba di mana peserta harus kembali ke start diantara tiap titik. Ini dapat digunakan untuk relay
events atau untuk keselamatan dan komunikasi dengan panitia tetap terjaga.

Simbol Start -a segi tiga yang digunakan untuk menunjukkan tempat start di peta. Ini seharusnya benar-benar berada
ditengah peta sebagai tempat pemberangkatan, dan satu titik diatasnya adalah titik kontrol pertama.

Jalur Terbatas - sebuah jalur yang selalu dibatasi dengan string line (berupa tali, pagar, tulisan dll). Jalur ini biasanya
digunakan untuk anak-anak untuk mengakrabkan mereka dengan hutan.

Thumbing - sebuah cara memegang peta, menggunakan ibu jari anda untuk menentukan lokasi anda sekarang. Untuk
melakukan ini dengan benar, anda harus melipat peta sehingga yang tampak hanya daerah lokasi anda sekarang
sumber : http://corpspecintaalamdansar.blogspot.com/2008/03/navigasi-tutorial-pendahuluan-sebagai.html
Tags: navigasi2

Peta
Peta adalah gambaran rupa bumi yang diproyeksikan pada medan datar. Peta memiliki beberapa jenis yaitu:
  1. Berdasarkan typenya ada dua jenis yaitu: Peta geografi dan peta topografi.
  2. Berdasarkan kegunaanya ada beberapa jenis yaitu: Peta Demografi (untuk kependudukan), Peta geologi, peta Transportasi dll.
Peta geografi adalah peta tematik biasa yang sering kita jumpai dan merupakan gambaran gambaran tata letak wilayah geografi. Peta ini juga disebut sebagai ATLAS. Contonya adalah peta Indonesia, Peta dunia, dll. Sedangkan peta topografi lebih detail dengan mencantumkan garis ketinggian dan detail legenda yang lengkap. Peta geografi biasanya dibuat dengan skala kecil. Seddangkan peta topografi karena merupakan gambaran rupa bumi yang lebih detail bisanya berskala lebih besar.
Indonesia pertamakali di petakan secara detail oleh pemerintah colonial Belanda dan selesai pada tahun 1943. Peta ini kemudian disempurnakan lagi di tahun 1944. Peta topografi tahun 1944 ini akhirnya dipakai sebagai acuan dasar pemetaan Indonesia. Tahun 1966 peta Indonesia disempurnakan lagi melalui system pencitraan satelit oleh American Map Service (AMS) namun dengan skala terbesar 1:50000.
Peta topografi awalnya hanya dipakai untuk kebutuhan militer sehingga sangat di rahasiakan dan tidak sembarang orang bisa meng akses. Akan tetapi dengan jaman yang semakin maju dan semakin terbuka, maka peta topografi sudah di sesuaikan dengan kepentingan public.
Bagian-Bagian Peta.
  1. Judul peta. Adalah judul yang diambil dari bagian terbesar wilayah yang tercantum dalam satu sheet peta. Biasanya terletak di bagian atas peta atau di samping untuk peta buatan badan survai tanah nasional (Bakosurtanal).
  2. Legenda Peta: Adalah penjelasan dari simbul simbul yang tercantum dalam peta. Bagian ini adalah komponen yang sangat vital karena kita akan jadi buta dalam membaca peta jika tidak ada legendanya.
  3. Skala Peta: adalah bagian yang menunjukan ukuran dalam lembar peta dengan medan sebenarnya. Skala ini ada dua jenis yaitu skala garis dan skala angka. Dalam peta topografi biasanya dicantumkan duaduanya. (Coantoh skala peta 1:25000; 1:50000; 1:100000) cara membacanya adalah 1:25000 berarti 1 cm dalam peta adalah 25000cm di medan sebenarnya.atau 25km.
  4. Garis Koordinat adalah jarring-jaring dalam peta yang terdiri dari garis vertical dan garis horizontal. Guna garis ini adalah untuk batas perhitungan koordinat. Koordinat peta dikenal ada dua jenis yaitu koordinat grid dan koordinat geografis. Koordinat geografis merupakan koordinat dari jarring-jaring bumi yang terdiri garis lintang untuk horizontal dan garis bujur untuk vertical. Penulisanya biasanya denga koordinat geografis, derjat, menit dan detik (contoh 940 15’ 114,4”) biasanya disertakan L untuk Lintang dan B untuk Bujur. Koordinat grid adalah jarring jarring koordinat local yang dipakai untuk acuan pengkoordinatan dalam peta. Biasanya hanya disebutkan dengan angka saja dan dikenal dengan koordinat 8 angka atau 12 angka. Untuk peta Indonesia ada dua acuan pokok dalam koordinat ini yaitu dengan dikenal dengan system UTM/UPS atau LCO masing masing dengan acuan 00 yang berbeda.
  5. Garis Ketinggian atau biasa disebut garis kontur. Adalah garis yang menyerupai sidik yang menunjukkan titik ketinggian yang sama dalam peta. Karena merupakan tanda dari ketinggian yang sama, maka garis ini tidak akan pernah saling memotong tapi bisa bersinggungan. Lokasi yang lebih rendah akan melingkari lokasi yang lebih tinggi, itulah cirri garis kontur. Atau bisa juga disebutkan garis sebelah dalam adalah lebih tinggi dari garis sebelah luar. Dalam peta interval atau jeda beda ketinggian antara garis kontur biasanya di tunjukan di dekat lokasi legenda. Untuk peta skala 1:25000 interval konturnya biasanya adalah 12,5 meter sedangkan peta skala 1:50000 biasanya interval konturnya adalah 25 meter. Terjemahannya adalah bila interval kontur 25 meter, maka jarak antara garis kontur yang satu dengan yang lainnya di medan sebenarnya memiliki beda tinggi secara vertical 25 meter. Garis kontur dengan pola huruv V atau runcing biasanya menunjukan sebuah jurang/sungai, dan garis kontur dengan pola U atau berpola Lengkung biasanya menunjukan sebuah punggungan dan O merupakan puncak atau Kawah.
  6. Tahun Pembuatan Peta: merupakan keterangan yang menunjukan tahun terakhir peta tersebut diperbaharui. Hal ini sangat penting karena kondisi permukaan bumi bisa berubah sewaktu, waktu.
  7. Deklinasi: yaitu garis keterangan yang menunjukan beda Utara Peta dan Utara Magnetik(Utara Kompas). Deklinasi ini direvisi tiap 5 tahun sekali. Kenapa ada perbedaan antara Utara peta dan Utara sebenarnya dan Utara Magnetik. Seperti kita ketahu Utara Bumi kita ditunjukan oleh di Kutub Utara. Sedangkan sumbu utara magnet bumi sebenarnya ada di sebuah kepulauan di dekat dataran Green Land. Setiap tahun karena rotasi Sumbu bumi ini mengalami pergeseran rata-rata 0,02 detik bisa ke timur dan ke barat. Jadi utara sebenarnya bisa ditentukan dari mengkonversi antara utara magnetic dengan utara Peta. Biasanya akan dicantumkan di setiap lembar peta.
Tujuh bagian tersebut merupakan bagian pokok terpenting yang selalu ada dalam tiap lembar peta. Bagian lain adalah merupakan bagian pelengkap. Yang biasanya berisi indek peta, keterangan pembuatan peta, dan pemroduksi peta.


NAVIGASI SUNGAI
1. Pendahuluan
Dalam perjalanan menyusuri sungai, baik berjalan kaki atau dengan perahu, kita dituntut untuk menguasai navigasi sungai seperti halnya navigasi darat dalam perjalanan gunung hutan. Secara praktis ilmu navigasi sungai telah lama dikenal oleh orang dayak di pedalaman kalimantan. Sebab sungai merupakan satu-satunya sarana angkutan bagi mereka. Dan dalam penentuan kedudukannya di sungai, mereka menggunakan tanda-tanda alam yang berupa riam, belokan sungai, penyempitan/pelebaran sungai, muara dan lainnya.
2. Pengertian Navigasi Sungai
Navigasi sungai adalah teknik untuk menentukan kedudukan secara tepat dalam perjalanan penyusuran sungai. Perbedaan yang mendasar antara navigasi sungai dan navigasi darat terletak pada acuan dasar untuk menentukan kedudukan. Pada navigasi darat, yang diambil sebagai acuan dasar adalah bentuk permukaan fisik bumi yang digambarkan oleh garis kontur, sedang pada navigasi sungai acuan dasarnya adalah bentuk dari tepi kiri dan kanan sungai, yaitu belokan-belokan sungai yang tergambar di peta.
3. Perlengkapan Navigasi sungai
a. Peta
navigasi sungaiAda dua macam peta yang digunakan yaitu:
1. Peta situasi sungai, peta ini tidak mempunyai garis kontur, yang tergambar adalah sungai dan desa yang ada di sepanjang daerah aliran sungai. Skala peta yang dipakai sebaiknya 1:50.000 atau 1:25.000, yang cukup jelas menggambarkan kondisi fisik sungai. Peta ini umumnya dibuat oleh perorangan yang pernah tinggal atau melakukan survey dan pemetaan disepanjang sungai tersebut.
2. Peta topografi, mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan peta situasi karena dapat membantu membaca kondisi alam di sekitar sungai seperti berupa rawa, tebing, bukit maupun pegunungan.
b. Kompas
Digunakan untuk menentukan sudut belokan-belokan sungai, kompas bidik dan kompas orienteering dengan keakuratan yang baik dapat digunakan untuk keperluan ini.
c. Alat Tulis
Berupa kertas tulis, busur derajat, penggaris dan alat tulis. Dipakai untuk menentukan posisi, setelah terlebih dahulu membidik sudut kompas dari sungai dan melakukan penaksiran jarak.
d. Altimeter
Altimeter bukan merupakan peralatan yang paling utama untuk menentukan posisi, tetapi lebih tepat untuk mengetahui gradien sungai, yaitu beda tinggi antara dua titik di sungai dalam jarak 1 km (contoh gradien sungai 9 m/km, yaitu beda tinggi 9 m antara dua titik yang berjarak 1 km). Karena perbedaan tinggi pada penurunan sungai relatif kecil untuk tiap km panjang sungai, maka sebaiknya digunakan altimeter yang cukup teliti, misalnya dengan kemampuan membaca perbedaan tinggi sampai 10 meter (sebagai gambaran, untuk sungai yang berarus deras dan banyak air terjunnya, perbedaan sungai rata-rata untuk tiap kilometer hanya sekitar 40 meter).
4. Menentukan Kedudukan Pada Peta
Dilakukan dengan cara bergerak menyusuri sungai sambil memperhatikan perubahan arah belokan sungai, dibantu dengan tanda-tanda alam tertentu yang terdapat disepanjang sungai. Ada dua cara yang dapat dipakai untuk menentukan kedudukan:
a. Dengan Bantuan Tanda-Tanda alam
Misalnya kita sedang melakukan penyusuran sungai dari titik A ke titik B, kemudian pada suatu tempat dijumpai sebuah muara anak sungai di sebelah kiri, untuk menentukan kedudukan pada saat ini adalah: Lakukan orientasi peta, kemudian amati sekitar medan dengan teliti, ukur sudut kompas (azimuth) dari lintasan sungai pada belokan di depan dan di belakang dengan menggunakan kompas, ingat tanda alam sebelumnya yang terdapat di belakang ( misalnya di belakang kita terdapat sebuah delta) dan lihat juga tanda alam di depan (misalnya belokan sungai ke arah kiri), kemudian gambar situasi sungai yang telah di dapat, kemudian cari padanannya pada peta (perlu diketahui bahwa delta yang terdapat pada sungai adalah delta yang cukup besar, tidak tertutup pada saat banjir, dan di tumbuhi pepohonan, jika tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak akan digambarkan pada peta.) apabila masih kurang jelas, maka perlu dilakukan penyusuran sampai pada tanda alam berikutnya yang dapat lebih memperjelas kedudukan kita.
b. Membuat Peta Sendiri
Teknik pelaksanaannya yaitu dengan penaksiran jarak dan pengukuran sudut kompas (azimuth). Sebelum melakukan cara ini, sebaiknya mata kita di latih dahulu untuk menaksir jarak, misalnya untuk jarak 50 meter atau 100 meter. Cara termudah adalah dengan berlatih di jalan raya dengan bantuan sepeda motor atau mobil yang penunjuk jaraknya masih berlaku dengan baik, dapat juga dengan bantuan tiang listrik (setiap 50 meter), patok kecil di sepanjang jalan raya (100 meter). Jika mata sudah terlatih, dapat dipraktekkan pada jalan dalam kota yang banyak belokannya. Untuk sungai di daerah hulu yang sempit dan banyak tikungannya, maka di pakai patokan jarak setiap 50 meter dengan sisa ukuran terkecil adalah 10 meter. Sedangkan untuk sungai di daerah tengah dan hilir yang relatifr lebih lebar dan lurus (kecuali pada daerah meander), atau jari-jari belokan besar (sudut belokannya relatif kecil untuk jarak 100 meter), maka dipakai patokan jarak setiap kelipatan 100 meter dengan sisa ukuran terkecil 25 meter.
Jadi kita membuat sungai menjadi sebuah batang yang terdiri dari banyak ruas panjang dan pendek, yang berbelok-belok sesuai dengan sudutnya. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan sungai adalah : sediakan peralatan yang diperlukan, buat tabel pada kertas yang terdiri dari dua kolom, kolom pertama untuk derajat (azimuth)dan kolom kedua untuk jarak (meter). Jika ingin lebih teliti dapat ditambahkan dua kolom lagi, yaitu untuk lebar sungai dan keterangan yang diperlukan (misalnya jika ada penyempitan, batu besar di tengah sungai, tebing terjal di kiri dan kanan sungai dan lainnya), bidik kompas pada awal pergerakan, dan taksir jaraknya dengan mata yang sudah terlatih, isikan hasil bidikan pada kolom 1 dan 2, jika menggunakan perahu sebaiknya dilakukan dari tengah sungai, hitung jaraknya sambil bergerak maju setiap 50 dan 100 meter. Setelah sampai pada batas yang telah ditentukan dari ruas sungai, lakukan pembidikan dan taksirkan jaraknya kembali, ulangi sampai melampaui 3 belokan sungai, kemudian buat gambar sungai tersebut berdasarkan hasil catatan yang ada pada tabel, skala dapat di misalkan 1 cm untuk 100 meter atau lebih kecil lagi, kemudian cari padanan atau bentuk yang mirip dari gambar sungai yang kita buat dengan peta sungai yang kita bawa, dengan demikian kedudukan kita di peta dapat ditentukan yaitu pada titik terakhir yang kita buat, jika belum di dapat juga ulangi sampai beberapa belokan lagi.






NAVIGASI RAWA
Navigasi rawa adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di medan rawa. Navigasi rawa merupakan navigasi pada daerah dataran sehingga prinsipnya sama dengan navigasi gurun pasir. Tidak ada tanda ekstrim (bukit atau lembah) yang dapat dijadikan patokan. Jika pada rawa daerahnya datar dan kadang di penuhi aliran sungai yang dapat berubah akibat banjir, maka pada gurun pasir pun daerahnya selalu berubah-ubah akibat tiupan angin. Seperti pada navigasi darat (gunung hutan), maka langkah pertama yang paling penting sebelum memulai perjalanan adalah mengetahui letak titik pemberangkatan di peta. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan sebagai patokan adalah sungai, lokasi desa terdekat, garis pantai (jika dekat dengan pantai), jadi perlu diperhitungkan kecermatan orientasi medan yang teliti.
rawaLangkah-langkah yang harus dilakukan dalam navigasi rawa adalah:
1) tentukan titik pemberangkatan kita di peta;
2) bidik arah perjalanan yang diambil, catat sudut kompasnya;
3) ukur dan catat jarak tempuh perjalanan dengan sudut kompas tersebut, lakukan terus untuk setiap bagian perjalanan sampai menemukan tanda yang dapat dijadikan patokan, misalnya sungai, jika belum dijumpai, lakukan terus sambil mencari tempat beristirahat. Cara mengukur jarak: a) Dengan penaksiran jarak (jika sudah mahir), seperti navigasi man to man atau pemakaian back azimuth pada navigasi gunung hutan, pemegang kompas berjalan di belakang dan rekan lainnya berjalan menurut sudut kompas. Batas jarak pengukuran untuk satu segmen tergantung dari mata dan telinga, artinya sampai batas pengelihatan jika medannya tertutp atau sampai batas pendengaran jika medannya terbuka, jadi panjang suatu segmen relatif, tergantung medan yang dihadapi; b) Dengan menggunakan pita ukur atau tali, caranya sama seperti di atas, tetapi didapat hasil yang lebih teliti; c) Dengan alat bantu ukur yang di pasang pada pinggang pemegang kompas, yaitu pemegang kompas berjalan paling belakang, rekan yang di depan membuka jalur sesuai arah sudut kompas, ikat ujung benang pada titik awal pada saat membelok atau merubah arah, lihat angka yang tertera pada alat pengukur tersebut. Putuskan benang dan ikat kembali ujung yang baru pada titik belok; d) Dengan alat pengukur langkah yang dipasang pada pinggang bagian depan. Catat jumlah langkah untuk setiap arah sudut kompas. Ambil patokan 10 langkah sama dengan beberapa meter, atau kelipatan yang habis dibagi dengan 10;
4. Plot hasil pengukuran tersebut pada peta, pergunakan skala peta yang sesuai dengan skala peta yang dimiliki, jika pengukuran jarak dan sudut kompas teliti maka akan didapat hasil yang akurat.
5. Pemeriksaan posisi akhir dengan orientasi medan. Jika tersesat, minimal kita mempunyai catatan perjalanan untuk kembali ke tempat semula.
6. Jika sudut kompas dan jarak tempuh sudah ditentukan, maka plot di peta arah lintasan kita. Lakukan perjalanan dengan sudut kompas tersebut dan pergunakan cara melambung jika medannya tidak memungkinkan untuk dilalui, dengan tidak melupakan poin 2 dan 3.
Catatan: cara berjalan di rawa
a. Bawa tongkat dan tali. Tongkat untuk mengukur kedalaman lumpur rawa, dan tali untuk membantu menarik teman yang terbenam.
b. Berjalan secara beriringan. Usahakan bejalan berdekatan dengan tanaman yang ada, injak bekas tumbuhan semak, rumput, atau akar tumbuhan yang ada kaarena tanahnya relatif lebih keras.
c. Tebas ranting pohon, dan letakkan secara melintang pada jalur yang akan diinjak, gunanya untuk menahan lajunya turunnya badan kita ke dalam rawa, prinsipnya sama seperti orang berjalan di atas salju yang lunak dengan menggunakan sepatu ski, semakin luas permukaan yang diinjak, maka semakin ringan beban yang ditanggung oleh salju.
d. Waspadalah terhadap binatang yang banyak terdapat di sekitar tanaman yang tumbuh di daerah rawa, umunya mereka berbisa.


NAVIGASI PANTAI
Navigasi pantai adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di daerah pantai. Navigasi pantai jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan navigasi rawa dan sungai, sebab sebuah garis posisi sudah diketahui, yaitu sebuah garis tepi pantai, jadi hanya dibutuhkan sebuah tanda lagi untuk melakukan resection. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan patokan adalah: - sudut arah dari garis pantai; - tanjung atau teluk; - muara sungai;- pulau atau karang yang terdapat disekitar pantai; - bukit yang terdapat didaerah pantai; - kampung nelayan
Jika sudah terlatih navigasi gunung hutan, maka navigasi di daerah pantai tidak menjadi masalah, karena pada navigasi pantai lebih ditekankan pembacaan peta. Tanpa bantuan kompaspun sebenarnya kita dapat berjalan di tepi pantai, kompas dibutuhkan jika harus melakukan perjalanan potong kompas, menghindari rintangan yang berupa tebing terjal yang tidak mungkin untuk dilewati.
Langkah-lagkah yang harus dilakukan dalam navigasi pantai:
1) Plot posisi kita dengan cara resection.
2) Berjalan mengikuti garis pantai selama masih memungkinkan.
3) Catat waktu perjalanan untuk waktu yang berbeda atau tiap menjumpai tanda yang mudah dikenal. Ini dilakukan untuk mempermudah kita jika kehilangan posisi. Periksa posisi kita di peta setiap menjumpai tanda-tanda medan yang mudah dikenal, misalnya tanjung dan muara sungai.
4) Jika menemui rintangan yang berupa tebing karang yang tidak mungkin dilewati, lakukan resection untuk menentukan posisi terakhir sebelum tebing tersebut. Setelah itu rencanakan perjalanan melambung dengan bantuan kompas sampai melewati rintangan. Pada tebing karang, umumnya perjalanan harus melewati tanjakan dan turunan yang terjal.
Sumber: http://www.geocities.com/ourormed/tutorial_3.htm

by SATUAN MANGGALA YUDHA 
UMBY